Sejak zaman prehistori, dominasi laki-laki dalam kepemimpinan sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak sedikit wanita yang juga memiliki jiwa kepemimpinan. Selanjutnya menyoal terpilihnya Kamala Harris sebagai wakil presiden wanita pertama di Amerika Serikat, menjadi menarik untuk diulas, kepemimpinan wanita dilihat dalam perspektif Neurosains dan perbedaan otak wanita dan pria.

Timbul pertanyaan, Apakah pria dan wanita memiliki otak yang berbeda? Studi neuroimage menjawab pertanyaan ini berdasarkan perbedaan morfologis antara daerah otak tertentu. Dalam penelitian yang dipublikasikan di journal terkenal Frontier Neurosciences, 08 March 2019. Tujuan penelitian tersebut menggunakan teknik “deep learning” dan berdasarkan database MRI difusi akses terbuka yang besar pada direkaman dari 1.065 sehat muda, yang terdiri atas 490 pria dan 575 wanita sehat.

Penelitian tersebut, menunjukkan perbedaan dari “2D Convolutional Neural Network” (CNN) yang umum digunakan, demikian pula dengan metode CNN 3D dengan struktur yang baru dirancang termasuk tiga lapisan tersembunyi dalam kaskade dengan lapisan linier dan lapisan Softmax terminal di Otak. 3D CNN yang diterapkan pada pemetaan anisotropi faksional (FA) di seluruh otak serta wilayah otak tertentu.

Penelitian ini menggunakan parameter berupa Pengukuran entropi pada fitur gambar yang diekstrak dari lapisan cortex otak untuk memeriksa perbedaan kompleksitas struktur otak antara pria dan wanita. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil dari penggunaan Support Vector Machine (SVM) dan Tract-Based Spatial Statistics (TBSS) yang sangat signifikan. Pada parameter 3D CNN menghasilkan perbedaan yang lebih jelas (93,3%) dibandingkan SVM (78,2%) pada gambar seluruh otak. Sehingga berdasarkan riset tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan terkait gender yang mungkin ada di seluruh otak. Selain itu, akurasi klasifikasi yang tinggi juga ditunjukkan di beberapa daerah otak tertentu termasuk precuneus kiri, girus postcentral kiri, girus cingulate kiri, girus orbital kanan lobus frontal, dan talamus oksipital kiri di materi abu-abu, dan batang otak kecil tengah genu korpus kalosum, korona radiata anterior kanan, korona radiata superior kanan dan ekstremitas anterior kiri kapsul internal pada materi sementara. Studi ini memberikan wawasan baru tentang perbedaan struktur otak antara pria dan wanita. Sehingga secara anatomi betul ada perbedaan, tetapi perbedaan tersebut justru semakin memperkuat konsep leadership pada wanita dan pria.

Berdasarkan perbedaan tersebut, akan sangat menarik melihat keunggulan karakter kepemimpinan wanita, sebagai berikut: Berbicara tentang karakteristik tersebut, ada 10 ciri utama pemimpin wanita yang kuat sebagai kunci untuk keberhasilan mengembangkan karakteristik ini untuk menggapai model kepemimpinan yang sempurna. 1). Pemimpin Wanita memiliki kemampuan inovatif dan kreativitas. Pemimpin perempuan yang kuat terus mencari masukan dari orang lain. Mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang dapat mereka lakukan dengan lebih baik dan tanpa lelah bekerja untuk mencapai tujuan tersebut. 2). Pemimpin Wanita umumnya berpikiran terbuka. Wanita dalam posisi kepemimpinan tidak takut melihat situasi dari berbagai sudut. Mereka cenderung mencoba untuk memahami situasi seorganik mungkin dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada waktu yang tepat, daripada menyesuaikan situasi dengan keinginan mereka sendiri. 3). Pemimpin Wanita Cenderung Mendekati Sesuatu dari Perspektif Besar dan Kecil, salah satu ciri paling tak ternilai oleh para pemimpin perempuan adalah rasa kesadaran mereka. Mereka biasanya mencoba melihat gambaran yang lebih besar terlebih dahulu, tetapi kemudian memecah situasi menjadi detail yang lebih halus untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di bawahnya. 4). Pemimpin Wanita Penuh Perhatian, Dalam alam global yang saling terhubung saat ini, sangat penting bagi seorang pemimpin mempraktikkan seni perhatian secara teratur untuk menghasilkan momen introspeksi yang sangat dibutuhkan, dan karakter ini umumnya dimiliki oleh wanita. 5). Pemimpin Wanita memiliki perasaan bertanggung Jawab sehingga bisa menerima konsekuensi dari tindakan mereka. 6). Pemimpin Wanita Tidak Takut Keluar dari Zona Nyaman. Pemimpin wanita yang kuat lebih cenderung mengambil risiko yang membuat mereka tidak nyaman, atau itu bukanlah keputusan yang “aman” untuk dibuat. Mereka memahami bahwa dengan keluar dari zona nyaman akan menciptakan peluang baru yang lebih baik untuk peningkatan diri. 7). Pemimpin Wanita Menaklukkan Ketakutan Mereka. 8). Pemimpin Wanita yang Kuat Mewujudkan Kesetaraan, pemimpin wanita yang kuat memahami bahwa kesetaraan tidak terjadi tanpa tindakan, sehingga mereka sendiri sering kali melangkah dan bertindak sebagai cahaya penuntun yang menyinari jalannya. 9). Pemimpin Wanita memperlakukan Orang Lain dengan Hormat. Mereka memperlakukan orang lain sebagaimana mereka sendiri ingin diperlakukan dan menikmati banyak manfaat yang didapat sebagai hasilnya. 10) Pemimpin Wanita Memercayai Naluri Mereka, pemimpin wanita yang kuat, lebih dari siapa pun, memiliki kecenderungan untuk memahami bahwa terkadang suara yang paling penting adalah suara mereka sendiri. Mereka memercayai naluri mereka dengan cara tanpa kompromi dan kita semua menjadi lebih baik karenanya.

Sehingga berdasarkan karakteristik di atas, menjadi suatu karunia bagi rakyat amerika serikat atas terpilihnya pemimpin dan sekaligus wakil presiden wanita pertama di Amerika Serikat.

SHARE
Previous articleVideo: Tanya Dr. Ikrar: Vaksin Covid-19 dan Masa Depan Dunia
Next article12 Gejala Non-COVID Yang Hendaknya Tidak Anda Sepelekan: Segera ke Ruang Gawat Darurat
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here