Dokter yang saya hormati, mau tanya hubungan rasisme dengan neurosains. Apakah perasaan rasisme merupakan sebuah kelainan atau penyakit? Jika merupakan kelainan, apakah bisa disembuhkan? Terima kasih atas jawab dokter.

Salam dari Aziz di Washington DC.

Jawaban

Bapak Aziz yang baik hati, semoga senantiasa sehat walafiat di USA. Beberapa hari yang lalu di Amerika Serikat terjadi gelombang besar-besaran sebagai protes atas kematian George Floyd, seorang pria keturunan Afrika yang meninggal pada 25 Mei di Minneapolis ketika seorang polisi berkulit putih terus berlutut di lehernya, walaupun dia memohon ampun karena dia tidak bisa bernapas. Kematiannya, akibat patah tulang leher dan gagal napas. Protes ini menyebar bahkan di seluruh dunia termasuk London, Berlin dan Auckland dan Australia. Protes tersebut sebagai disebut protes anti rasisme.

Rasisme adalah perilaku yang terlahir akibat dari suatu lingkungan memberikan diskriminasi. Padahal tidak seorang pun dilahirkan dengan perasaan superior. Dalam mencermati Rasisme ini, dalam persepsi neurosains, bukan suatu penyakit tetapi merupakan bisa terhadap persepsi lingkungannya.

Sebetulnya manusia pada saat lahir sampai dengan usia 3 bulan pertama, bayi tidak dapat membedakan seseorang berdasarkan warna kulitnya, dia hanya melihat dari segi perbedaan berdasarkan siapa yang paling sering bertemu dengannya. Nanti setelah tiga bulan, sebagai perkembangan saraf sensoris dan saraf visualnya, sehingga bayi lebih dewasa, sehingga anak mulai membedakan berdasarkan warna kulit tersebut. Sehingga berdasarkan ini sebetulnya rasisme tidak diturunkan, tetapi akibat pengaruh lingkungan.

Dalam perkembangan terbaru dalam pencitraan otak, menyebabkan terjadi peningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana individu menanggapi isyarat rasial dan stereotip. Bukti menunjukkan bahwa stereotip rasial lebih bersifat emosional dalam alam pemikiran dengan stereotip fenotipik lainnya. Emosi yang mungkin membangkitkan adalah rasa malu, rasa takut, atau rasa terancam. Pengalaman rasa malu dapat menghambat refleksi diri, mengganggu kesadaran seseorang tentang potensi bisa rasial yang berimplikasi, sehingga menghambat eksplorasi pertimbangan rasional seseorang yang menderita rasisme.

Perasaan Rasisme tersebut sebenarnya dapat berubah, dengan memberikan pendekatan terapi kelompok, dengan menyediakan konteks untuk mengatasi atau memperbaiki bisa ras serta emosi dalam interaksi yang sering menyertainya. Teknik praktis disajikan untuk mengelola rasa malu bersama dengan emosi lain yang mungkin muncul akibat ras. Sehingga persepsi perbedaan ras dapat dirasionalisasi bahwa itu hanya akibat perbedaan konsentrasi melain pada kulit sehingga menimbulkan adanya orang berkulit putih, berkulit coklat, bahkan berkulit hitam, tetapi isi dari naluri kemanusiaan adalah sama bagi setiap orang. Sehingga dengan demikian perasaan rasis dapat dieliminasi.

Demikian pak Aziz, semoga bermanfaat dan mencerahkan. Salam sehat untuk semua.

SHARE
Previous articleTips Menghadapi Kemacetan Lalu Lintas
Next articleNew Normal dan Urgensi Vaksin Covid-19
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here