Sejak tahun 2010, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menjadikan Hari Hepatitis Sedunia sebagai salah satu hari yang penting untuk diperingati setiap tanggal 28 Juli. Hepatitis C adalah salah satu dari jenis penyakit Hepatitis yang sangat serius bagi kesehatan rakyat Indonesia. Menurut WHO, diperkirakan ada sekitar 130-150 juta orang di dunia yang terinfeksi Hepatitis C. Penyakit Hepatitis C kronis dapat berkembang menjadi kanker hati yang sulit diobati dan setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 150 ribu orang meninggal karena penyakit Hepatitis C. Diperkirakan jumlah pengidap Hepatitis C di Indonesia ada sekitar 2 juta orang.

Hepatitis C bisa disembuhkan, pengobatan Hepatitis C yang tersedia di Indonesia sampai saat ini adalah dengan obat kombinasi Pegylated Interferon dan Ribavirin. Sayangnya tingkat kesuksesan terapi dengan obat kombinasi ini masih sangat rendah, selain itu memiliki efek samping yang cukup berat dan Harga obat kombinasi Pegylated Interferon + Ribavirin ini mencapai 80 juta rupiah. Saat ini Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sudah bisa menanggung pengobatan dengan menggunakan kombinasi obat ini.

Kini, obat Hepatitis C terbaru sudah tersedia dengan tingkat kesuksesan di atas 90%. Zat aktif bernama Sofosbuvir yang patennya dimiliki oleh perusahaan farmasi Gilead dengan brand Sovaldi. Obat Sofosbuvir digunakan dengan cara oral dan dikombinasikan dengan Ribavirin atau obat DAA lainnya. Kombinasi Sofosbuvir dan Ribavirin atau obat DAA lainnya memiliki tingkat kesuksesan terapi yang tinggi yaitu mencapai 90 – 95% untuk menyembuhkan Hepatitis C.

“Sofosbuvir merupakan terobosan terbaru yang sangat ditunggu para pasien Hepatitis C di Indonesia. Kami berharap pasien di Indonesia dapat segera mendapatkan pengobatan yang berkualitas dan terjangkau seperti yang sudah dimulai di beberapa negara lain,” tutur Aditya Wardhana, sebagai juru bicara Koalisi Obat Murah (KOM) dalam siaran persnya.

Saat ini, obat Sofosbuvir ini sedang didaftarkan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Pendaftaran ini diperlukan guna mendapatkan izin edar sehingga obat ini bisa diedarkan di pasar Indonesia. Biasanya, mekanisme pendaftaran dan Badan POM ini memerlukan waktu lebih dari 2 tahun. Namun, BPOM memiliki mekanisme Fast Track yang bisa mempercepat waktu pendaftaran sampai dengan 6 bulan saja jika obat ini diperlukan oleh rakyat Indonesia dan sifatnya menyelamatkan nyawa. “Kami sangat berharap obat ini mendapatkan izin edar, karena itu berarti obat tersebut bisa diperoleh di Indonesia,” demikian kata Ayu sebagai pasien Hepatitis C.

Karena itu menurut Irwandy pasien Hepatitis C yang berharap mengakses obat Hepatitis yang lebih efektif, izin edar tersebut juga diperlukan untuk mendorong obat tersebut masuk dalam Formularium Nasional agar bisa ditanggung JKN/BPJS. Sehingga sebagai peserta BPJS bisa mendapatkan obat tersebut.

Harga obat Sofosbuvir versi generik dijual oleh produsennya sebesar 2,6 – 3,6 juta per botol untuk konsumsi 1 bulan dan sudah bersama dengan Ribavirin. Untuk penyembuhan hepatitis C diperlukan waktu antara 3 bulan sampai 6 bulan tergantung tipe virus Hepatitis C yang diidap. Dengan estimasi waktu terpanjang untuk melakukan terapi selama 6 bulan, maka harga obat Sofosbuvir ini semahal-mahalnya akan mencapai 24 juta rupiah. Harga obat ini jauh lebih murah dari obat kombinasi Peggylated Interferon + Ribavirin yang mencapai 80 juta yang saat ini sudah ditanggung oleh JKN dan oleh karenanya peluang untuk mendesak kombinasi obat Sofosbuvir dan Ribavirin untuk ditanggung oleh JKN sangat besar. Karena obat ini jauh lebih murah, lebih efektif dan lebih minim efek samping.

Di negara-negara lain, seperti India, Brazil, Pakistan, ketersediaan obat ini sudah mudah diakses. “Bahkan di Bangladesh yang merupakan negera kurang berkembang saja sudah bisa diperoleh, mengapa di Indonesia yang pengidap Hepatitis C-nya jauh lebih banyak masih belum bisa mengakses?” demikian Sindi sebagai aktivis akses obat murah di Koalisi Obat Murah mempertanyakan.

Koalisi Obat Murah (KOM) yang terdiri dari gabungan kelompok pasien dan organisasi masyarakat sipil serta individu di hari Hepatitis Sedunia ini mengadakan aksi damai “Sofosbuvir, obat Hepatitis C untuk Rakyat” di BPOM dan Kemenkes dengan dua tuntutan yaitu 1) Masukan Sofosbuvir dalam mekanisme Fast Track di BPOM agar segera mendapat izin edar dan 2) Masukan Sofosbuvir dalam daftar Formularium Nasional agar bisa ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here