Yang terhormat Dr. Ikrar,

Saya mendengar adanya penyakit langka pada anak yang disebut SCID, saya khawatir anak kemenakan saya menderita penyakit tersebut. Atas penjelasannya, terima kasih.

Salam,
Muhajirin, Balikpapan Kaltim.

Jawab:
SCID, merupakan penyakit imunodefisiensi atau sistem imun yang tidak berfungsi, sehingga mereka tidak mampu untuk melawan infeksi dari tubuh mereka sendiri. Salah satu penyakit imunodefisiensi adalah Severe Combined Imunodeficiency atau SCID. SCID, merupakan penyakit genetik langka yang mengancam nyawa bayi baru lahir dimana kombinasi sel T dan sel B dalam sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi sehingga tubuh rentan terkena infeksi bakteri, virus, atau jamur. SCID termasuk kondisi kegawat-daruratan medis pada anak (pediatric emergency) yang membutuhkan penanganan segera. Pengidap SCID yang tidak mendapatkan penanganan medis jarang bisa mencapai usia satu tahun. Penyakit ini juga dikenal dengan “bubble boy disease” karena pengidapnya harus memakai bola bening tiap hari karena badannya rentan terhadap infeksi (diisolasi). Kemudian harus segera diberikan obat-obatan antibiotik, anti-virus, dan anti jamur setiap hari serta immunoglobulin setiap 4 minggu untuk mencegah infeksi. Hal itu dilakukan sambil menunggu dilaksanakannya Bone Marrow Transplant / BMT (transplantasi sumsum tulang) sesegera mungkin, yang merupakan satu-satunya prosedur untuk memberikan kesempatan hidup bagi penderita SCID. Menurut National Center for Biotechnology Information diperkirakan keterjadian penyakit ini adalah 1:200.000 (1 dari 200.000 bayi yang lahir menderita SCID). Namun data di AS terakhir menunjukkan angka 1:58.000.

Data ini bisa diperoleh karena AS sudah menjalankan newborn screening untuk SCID (semua bayi yang baru lahir di screening SCID) sejak sekitar 8 tahun lalu. Anak pengidap SCID juga hanya bisa menerima transfusi darah dengan darah yang telah terradiasi untuk membunuh sel darah putihnya, karena dapat menyerang tubuh anak tersebut. Kemungkinan dokter akan menyarankan untuk infusi immunoglobulin (IVIG) untuk membantu mencegah infeksi. Demikian penjelasannya, semoga bermanfaat.

SHARE
Previous articleHal-Hal Yang Memperlambat Diet Kita
Next articleVIDEO: Future Indonesia Healthiness
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here