Gangguan jiwa bipolar merupakan kelainan jiwa yang telah dikenal sejak zaman romawi, namun sampai kini, kelainan ini masih diderita oleh jutaan penduduk dunia. Ciri unik gangguan kejiwaan ini adalah mania. Demikian pula sebaliknya, penderita bisa menunjukkan gejala kebalikan dari mania, yaitu berupa depresi yang berlebihan.

Secara umum, penderita mania bipolar, ditandai dengan suasana hati tinggi atau euforia, aktivitas yang berlebihan dengan berkurangnya kebutuhan tidur (insomnia), dan optimisme yang berlebihan bahkan sangat ekstrim. Sebagai contoh, seseorang dengan mania dapat memutuskan untuk membeli 500 set televisi jika ia percaya bahwa harga mereka akan naik. Demikian pula hasrat seksual juga yang berlebihan.

Gejala Klinis

Pasien Bipolar yang memiliki empat atau lebih episode mania atau depresi per tahun dianggap “rapid cyclers” Namun, gangguan bipolar, terutama pada fase manik, sangat merusak kemampuan pasien untuk bekerja dan fungsi keluarga yang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar bahkan dibandingkan dengan depression.

Pada wanita dengan gangguan bipolar, masa postpartum adalah masa risiko yang cukup besar, dan fakta ini harus dibahas ketika konseling pasien wanita tentang risiko kehamilan. Penyakit bipolar juga mungkin muncul setelah persalinan, serta gejala manik yang muncul dalam minggu-minggu setelah melahirkan akan memiliki karakteristik prognosis yang baik setelah melahirkan.

Faktor Pencetus dan Usaha Pencegahan

Faktor Genetik: sekitar 50 persen pasien dengan penyakit bipolar memiliki riwayat keluarga dengan gangguan, bahkan beberapa keluarga, yang dikenal sebagai keluarga multipleks, yaitu ada banyak anggota keluarga yang menderita penyakit dari beberapa generasi keluarga tersebut. Studi pada anak kembar menunjukkan bahwa kesesuaian untuk penyakit bipolar hingga 40 persen dan 80 persen pada kembar monozigot. Munculnya genetika molekuler membuka era baru dalam studi genetik gangguan bipolar. Penanda DNA telah dicari di seluruh genom dalam silsilah besar di mana banyak anggota keluarga memiliki penyakit dan, dengan menggunakan tes transmisi disequilibrium, pada pasien dengan gangguan bipolar dari orang tua mereka. Konseling genetik keluarga dengan penyakit bipolar mungkin sangat membantu, dalam upaya pencegahan penyakit ini.

Berdasarkan studi keluarga, risiko gangguan bipolar pada anak atau saudara dari seseorang dengan penyakit ini sekitar 10 persen. Informasi tersebut dapat membantu untuk perencanaan kehidupan keluarga.

Pengobatan

Pengobatan penderita Bipolar disorder, diberikan berdasarkan kondisi pasien. Mania akut adalah keadaan darurat medis yang perlu segera dilakukan, karena dengan kondisi ini penderita bisa membahayakan diri sendiri bahkan orang lain dan keluarganya.

Pengobatan obat untuk Mania dan Bipolar Disorder, dapat diberikan Neuroleptik (antipsikotik) obat jelas efektif dalam mania. Pada pasien akut manik, obat-obat ini memiliki keuntungan tersedia parenteral serta bentuk lisan dan onset yang cepat inhibisi psikomotor, yang dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus pasien kekerasan atau psikotik.

Demikian pula, studi penelitian telah menunjukkan bahwa lithium, valproate, dan carbamazepine telah memberi khasiat dalam pengobatan mania akut dan efektif dalam praktek klinis sebagai monoterapi untuk episode mania ringan.

Selanjutnya untuk Bipolar Depresi, (episode depresi pada pasien dengan penyakit bipolar) umumnya merespon trisiklik antidepresan, selective serotonin reuptake-, dan monoamine oxidase inhibitors. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa antidepresan yang relatif baru seperti selective serotonin reuptake-dan bupropion kurang mungkin dibandingkan obat yang lebih tua untuk mendorong mania pada orang dengan depresi bipolar, suasana hati stabilizer dan Profilaksis. (Dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleJus Sehat Untuk Jantung
Next articleVideo : Penyakit Jiwa Dapat Diobati
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here