Dewasa ini terdapat banyak gangguan pembuluh darah dan juga sistem saraf. Dari berbagai efek kelainan pembuluh darah, juga mengakibatkan gangguan fungsi ereksi atau impotensi, yaitu ketidakmampuan seorang pria untuk memulai atau mempertahankan ereksi. Kondisi ini tentu mengakibatkan kurang harmonisnya rumahtangga, bahkan bisa berujung pada perceraian.Dalam konsep kedokteran, seorang pria dapat melakukan ereksi atau kemampuan ereksi sangat ditentukan oleh kondisi vital dan fisiologis tubuhnya. Hal ini sangat terkait dengan beberapa faktor utama: kondisi pembuluh darah, fisiologi sistem syaraf, faktor hormonal, faktor obat-obatan, serta kondisi anatomi penis. Yang terakhir juga dipengaruhi oleh kondisi psikis yang memengaruhi gairah seksual.

Selain faktor di atas, keadaan impotensi juga dapat disebabkan oleh faktor usia di mana banyak pria lanjut usia mengalami hal tersebut. Sedangkan masalah psikis lebih sering terjadi pada pria yang lebih muda. Semakin bertambah umur seorang pria, maka impotensi semakin sering terjadi, meski impotensi bukan merupakan bagian dari proses penuaan, melainkan merupakan akibat dari penyakit yang sering ditemukan di usia lanjut. Bahkan berdasarkan statistik diperkirakan ada sekitar 50% pria berusia 65 tahun dan 75% pria berusia 80 tahun yang mengalami impotensi.

Patofisiologi Ereksi

Atherosclerosis pada pembuluh arteri penis
Atherosclerosis pada pembuluh arteri penis

Berdasarkan ilmu fisiologi tubuh, penis memerlukan aliran darah yang cukup untuk terjadinya ereksi. Dengan aliran darah yang cukup, darah akan mengisi kapiler-kapiler darah di dalam corpus cavernous, dengan efek yang terlihat berupa kemampuan ereksi pada penis pria. Jika terjadi masalah atau ditemukannya penyakit pembuluh darah, misalnya aterosklerosis, bisa menyebabkan terhambatnya darah masuk ke corpus cavernous tersebut hingga akhirnya menyebabkan impotensi atau kegagalan ereksi. Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau pembedahan pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis.

Kalau sistem saraf yang memengaruhi sensasi dan meregulasi sistem covernouse tersebut, menyebabkan tidak cukupnya rangsangan sensorik, dan berakhir dengan kegagalan ereksi. Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini bisa terjadi akibat: cedera, Diabetes mellitus, Multiple Sclerosis, Stroke, obat-obatan dan alkohol, penyakit tulang belakang bagian bawah, dan pembedahan rektum atau prostat.

Selain faktor pembuluh darah dan sistem saraf, kondisi ganguan ereksi juga dapat terjadi akibat pengaruh obat-obatan, seperti antihipertensi, antipsikosa, antidepresi, obat penenang, dan simetidin. Demikian pula dapat disebabkan oleh faktor kejiwaaan dan kadar hormon testosterone yang dapat berdampak pada kemampuan libido (hasrat seksual).

Gejala Utama Gangguan Ereksi

Kerusakan sistem saraf tulang belakang
Kerusakan sistem saraf tulang belakang

Gejala utama pada gangguan ereksi adalah ketidakmampuan penis atau alat kelamin pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi. Dalam kebanyakan kasus, gangguan ereksi hanya bersifat sementara.

Namun, ada di antara beberapa kasus, ada gangguan ereksi yang berlangsung lama. Penderita tidak dapat melanjutkan hubungan seksual, dan ini yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan suami-istri.

Kondisi ini juga dapat dilihat dalam aspek psikologis. Secara psikologis ditandai dengan berkurangnya dorongan seks, merasa rendah diri, depresi serta tertekan, dan perasaan bersalah terhadap pasangan. Penderita merasa telah mengecewakan pasangannya, bahkan berdampak buruk lagi terhadap kondisi psikologisnya.

Selain secara psikologis, gangguan ereksi dapat disebabkan oleh kondisi medis. Gejalanya sama dengan gangguan medis lainnya, misalnya akibat gangguan pembuluh darah, tentu bersamaan dengan gejala hipertensi, seperti sakit kepala, pusing, mual, dan seterusnya.

Pegobatan dan Penatalaksanaan

Pembedahan dalam merekonstruksi Penis
Pembedahan dalam merekonstruksi Penis

Berdasarkan faktor pencetus impotensi atau gangguan ereksi, proses penyembuhan dapat dilakukan dengan mengantisipasi sesuai faktor pencetusnya. Sebagai contoh, bila penyebab gangguan ereksi oleh faktor psikologis, maka metode menghilangkan stres seperti meditasi dan terapi menjadi sangat berguna dalam mengobati atau menyembuhkan impotensi yang disebabkan oleh stres.

Namun, ketika penyebab yang mendasari gangguan ereksi tersebut adalah faktor medis, maka diperlukan pertolongan dokter dan ahli pengobatan dalam menyembuhkan impotensi tersebut. Di sini keterbukaan terhadap dokter Anda sangat diperlukan untuk menelusuri faktor pencetus utamanya.

Setelah diagnosa ditegakkan, maka dokter dapat meresepkan beberapa obat-obatan oral yang dirancang untuk membantu orang mencapai ereksi atau meningkatkan masa ereksinya.

Obat-obat ini harus berdasarkan resep dokter, demikian pula tidak dapat dikonsumsi oleh penderita yang juga mengalami gangguan medis serius, seperti mereka yang menderita penyakit jantung.

Demikian pula dapat dilanjutkan dengan tambahan alat bantu medis berupa pemompaan, misalnya pompa penis atau implan penis. Demikian pula, penderita dianjurkan untuk mengurangi minuman keras seperti alkohol dan diharapkan untuk berhenti merokok. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu dapat dilanjutkan dengan tindakan pembedahan. (1005)

SHARE
Previous articleVideo: Tanya Dokter : Lebih Jauh Dengan Tumor Otak
Next articleVideo: Cara Baru Pengobatan Penyakit Parkinson
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here