Gangguan atau penyakit autisme, mengalami peningkatan yang luar biasa dewasa ini. Menurut data dari WHO (World Health Organization), badan kesehatan dunia tersebut menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir, terjadi peningkatan autisme lebih 600 persen. Dengan ledakan jumlah penderita autisme tersebut, mendorong para ahli kedokteran atau kesehatan dunia untuk berupaya menanggulanginya, yang dimulai dengan mengungkap misteri penyebab utama penderita gangguan autisme tersebut.

Dewasa ini para ilmuwan telah membuktikan, penyebab dominan autisme adalah faktor genetik. Walaupun pada dasarnya, autisme disebabkan oleh berbagai kemungkinan lain. Autisme sangat terkait dengan agen atau zat yang menyebabkan cacat lahir, seperti; logam berat, pestisida atau zat toksik lainnya. Dan diperkirakan prevalensi autisme diseluruh dunia sekitar 1-1 anak per 10.000 kelahiran tahun 1998, meningkat menjadi 112 per 10000 kelahiran.

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang sangat bervariasi dengan gejala awal muncul pada masa bayi atau masa kanak-kanak, dan kemudian berkembang menjadi autisme yang sulit dikendalikan. Orang-orang dengan autisme memiliki gangguan sosial dan sering mengalami kehilangan intuisi tentang orang lain dan lingkungannya. Gangguan autismee hampir selalu berkembang sebelum usia tiga tahun dan ditandai dengan komunikasi verbal dan non-verbal, serta interaksi sosial yang terganggu.

Secara umum, anak-anak dengan autisme sering mengalami kesulitan ekstrem dalam mengembangkan hubungan yang normal dengan orang lain. Mereka cenderung untuk tidak berbagi dengan kepentingan rekan-rekan mereka. Dalam banyak kasus anak-anak ini tidak mampu menafsirkan isyarat atau tidak bisa berkomunikasi non-verbal, seperti memahami ekspresi wajah orang lain. Kebanyakan orang dengan autismee memiliki beberapa gangguan dalam perkembangan kemampuan berbahasa dan bahkan tidak pernah berbicara sama sekali.

Gejala dan Penyebab Autisme

Struktur Otak Penderita Autisme
Struktur Otak Penderita Autisme

Telah lama diprediksikan, bahwa penyebab umum autisme adalah faktor genetik, kognitif, dan gangguan saraf. Gangguan perkembangan saraf merupakan degradasi pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem saraf pusat, yang berarti; gangguan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, kemampuan belajar, dan memori. Hal tersebut berawal pada masa bayi dan masa kanak-kanak baik berupa gangguan perkembangan ataupun berupa cedera otak. Demikian pula dapat disebabkan oleh mutasi genetik, seperti; Down syndrome atau Syndrome fragil lingked-X. Selain penyebab diatas, autisme juga dapat diakibatkan infeksi.

Penampakan otak penderita autisme dibanding orang normal
Penampakan otak penderita autisme dibanding orang normal

Gejala autisme sangat bervariasi; pada bayi dapat terlihat relatif normal selama beberapa bulan pertama kehidupan sebelum menjadi kurang responsif terhadap orang tua mereka dan rangsangan lainnya. Mereka mungkin mengalami kesulitan dengan makan atau pelatihan toilet, tidak bisa tersenyum sebagai respon atas wajah orangtua mereka, dan bahkan melakukan perlawanan untuk didekap. Ketika mereka memasuki masa balita, menjadi semakin jelas bahwa anak autisme ini, memiliki dunia sendiri. Mereka tidak bermain dengan anak lain atau mainan dengan cara normal, melainkan tetap menyendiri dan lebih memilih untuk bermain sendiri.

Upaya Penanggulangan dan Pencegahannya

Model Pengobatan Masa Depan
Model Pengobatan Masa Depan

Dengan melihat faktor pencetus atau penyebab autisme, serta memperhatikan perkembangan gangguan autisme ini, sehingga dibutuhkan intervensi dini yang tepat dan cepat. Pencegahan dan penanggulangan yang tepat dapat dimulai dari tahap pre natal (Sebelum anak lahir), kemudian penangan yang tepat pada saat lahir, serta perawatan pasca natal (Setelah kelahiran). Proses pencegahan tersebut, dengan memberikan asupan makanan yang sehat terhadapa ibu-ibu yang pada fase kehamilan, serta mencegahan mengkonsumsi zat-zat yang berisafat toksit dan racun. Demikian pula perwatan selama fase kelahiran, dan setelah anak tersebut lahir, dengan memberikan suplai makanan yang tepat. Serta sedini mungkin dilakukan pengecekan atau diagnosa sejak dini sekitar 2 atau 3 tahun pasca kelahiran. Jika, telah ditemukan adanya indikasi kelainan autisme, maka sebaiknya diberi perawatan sejak dini, sehingga anak-anak tersebut tidak mengalami penyimpangan yang lebih parah.

Dengan kondisi tersebut, sudah selayaknya Pemerintah Indonesia dan berbagai elemen masyarakat lainnya, menyiapkan fasilitas perawatan dan rehabilitasi autisme (di Amerika, fasilitas seperti ini disebut: Autisme Primary Care and Rehabilitation Center). Sebab kalau tidak ditanggulangi dengan cepat, mulai dari tahap awal, maka jumlah penderita autisme akan semakin besar, bahkan tidak mustahil menjadi ledakan penderita kelaianan khusus ini.

SHARE
Previous articleVideo: Celebral Palsy Dapat Disembuhkan Dengan Terapi Partikel
Next articleMenopause dan Manifestasinya
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here