Pada saat seseorang menderita penyakit, apalagi yang parah, maka obat menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda. Karena itulah obat akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian, obat menjadi salah satu kebutuhan pokok dan sangat penting dalam masyarakat. Karena obat merupakan hasil ekstrak secara kimiawi, penggunaannya harus secara tepat dan benar. Hal ini terjadi karena zat kimia obat tersebut, jika masuk ke dalam tubuh, akan segera bereaksi berdasarkan reaksi kimiawi dan biologi tubuh. Jika penggunaannya tepat dan berdasarkan anjuran atau resep dokter akan berdampak baik untuk menyembuhkan penyakit. Namun sebaliknya, jika penggunaannya tidak secara tepat akan menyebabkan reaksi yang berlebihan, ketergantungan obat, sampai pada tahap keracunan dan kematian orang yang menggunakan obat tersebut.

PEMAKAIAN OBAT YANG BENAR

Penggunaan obat yang tepat, dapat diartikan sebagai penggunaan obat yang sesuai dengan dosis, jangka waktu pemakaian, serta berdasarkan indikasi atau kebutuhan klinis pasien yang dilandasi atas keterjangkauan biaya. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa penggunaan obat yang tepat adalah yang memenuhi syarat atau aspek medis, ekonomis, dan hukum sosial.

Pentingnya penggunaan obat secara tepat dan rasional, disebabkan atas beberapa faktor yaitu:

  1. Upaya untuk mencegah terjadinya resistensi atau ketidak-efektifan obat. Jika telah terjadi resistensi, maka pada saat pemakaian obat tersebut dikemudian hari, obat tersebut menjadi tidak manjur lagi untuk menyembuhkan penyakit yang diderita.
  2. Peningkatan biaya pengobatan, yaitu kenaikan biaya obat yang berdampak pada peningkatan beban ekonomi di masyarakat. (Hal ini dapat dikurangi dengan penggunaan obat tepat).
  3. Pengobatan efektif dan aman, penggunaan obat yang tidak tepat akan berdampak pada efektivitas obat. Pada akhirnya obat tidak menyembuhkan bahkan akan memperparah penyakit yang diderita, serta dapat berakhir dengan kecacatan dan kematian.

REAKSI OBAT

Reaksi obat yang merugikan adalah respons terhadap obat yang berbahaya dan tidak disengaja. Dalam deskripsi ini penting dijelaskan bahwa hal tersebut menyangkut respon pasien, di mana faktor individu dapat memainkan peranan penting. Bahkan fenomena ini dapat berupa: respon terapi tak terduga, berupa efek samping dari obat tersebut.

Biasanya keracunan obat dapat terjadi karena pemakaian yang berlebihan—melebihi batas terapi obat atau karena pemakaian dalam waktu yang lama (kronis). Selain itu dapat disebabkan karena reaksi alergi, ataupun karena pemakaian obat yang bukan berdasarkan indikasi. Demikian pula diakibatkan oleh pemakaian obat yang merupakan kontra indikasi, yang disebabkan ketidaktahuan pasien.

Keracunan obat pada seseorang tentunya merupakan suatu bencana tersendiri yang seharusnya dapat dihindari. Menurut laporan Institute of Medicine, reaksi obat merugikan merupakan penyebab utama kematian urutan ke empat di Amerika Serikat dan lebih dari dua juta reaksi serius terjadi setiap tahun. Reaksi obat yang merugikan ini dapat terjadi karena beberapa alasan, termasuk pemakaian dosis yang tidak benar, penyalahgunaan obat, dan interaksi antara obat.

Karena semua obat memiliki kemungkinan efek samping, oleh karena itu dibutuhkan pemantauan penggunaannya, hal ini untuk membuat obat yang lebih aman. Sehingga dokter sebelum meresepkan, atau masyarakat sebelum mengkonsumsi obat, sebaiknya memahami:

  1. Batas normal serta level kritis yang memungkinkan obat yang dikonsumsi beracun
  2. Reaksi fisiologis dan toksisitas obat, serta kontra indikasi obat tersebut
  3. Interpretasi level kebutuhan dan efektivitas obat tersebut
  4. Untuk obat-obatan yang mempunyai risiko yang tinggi dan sensitif, sebaiknya dokter yang memberikan resep memahami metode uji laboratorium untuk memantau tingkat obat.

KERACUNAN OBAT

Stevens Johnson Syndrome merupakan contoh yang sangat populer sebagai akibat keracunan obat yang ditandai dengan munculnya ruam, luka dan lecet yang sangat parah pada kulit, sering dalam bentuk atipikal (datar, tidak teratur) pada lesi tersebut. Demikian pula terjadi kerusakan selaput lendir (mulut, mata, dan daerah kelamin). Syndrome ini bisa berakhir dengan kematian yang menggenaskan.

ANJURAN PENGGUNAAN OBAT

Ada beberapa tips untuk mencegah keracunan obat, antara lain:

  1. Konsumsilah obat sesuai anjuran dokter.
  2. Jika menggunakan obat, perhatikan secara teliti etiket obat (aturan pakai, dosis, indikasi dan kontra indikasinya, usia penggunaan, masa berlaku dan kadaluwarsa).
  3. Hindari mengonsumsi obat yang bisa menyebabkan ketergantungan, misalnya obat-obat narkotik, dan psikotropik lainnya.
  4. Jika ada keluarga atau orang di sekitar yang menderita tanda keracunan obat, yaitu suatu tanda atau gejala berupa urtikaria (gatal-gatal), sesak napas, muntah-muntah, pusing, atau kesadaran menurun (pingsan), setelah mengonsumsi suatu obat, lakukan tindakan berikut:
  • Kurangi efek obat dengan meminum air putih
  • Hentikan mengonsumsi obat tersebut
  • Minum antihistamin atau antialergi yang dosisnya disesuaikan dengan usia penderita
  • Berikan bantuan pernapasan, jika terjadi sesak nafas
  • Kalau penderita mengalami muntah dan diare, berikan larutan oralit (garam ¼ sendok teh ditambah 1 sendok gula manis yang dilarutkan dalam 1 gelas air putih)
  • Segera minta pertolongan dokter/paramedis terdekat. (Dr. Ikrar)
SHARE
Previous articleVideo: Kegemukan dan Penampilan Serta Manifestasi Kesehatan
Next articleManfaat Nitric Oxide Dalam Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Staf Ahli RS Kepresidenan RSPAD dan Cell Cure Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here