Penyakit Autis terjadi karena ada gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan adanya kerusakan pada otak. Anak penderita autis mengalami gangguan seputar perkembangan dirinya, seperti gangguan berkomunikasi, berperilaku, bersosialisasi, dan lain-lain.

Anak penderita autis sulit bahkan tak mampu berkomunikasi dengan orang, meski orang terdekat sekalipun. Anak penderita autis seperti hidup dalam dunianya sendiri, ia tak mampu mengekspresikan perasaan dan keinginannya kepada orang lain.

Terapi penyembuhan penderita autis dapat dilakukan dengan metode-metode ABA (applied behavioral analysis), hidrotermal, hidromekanik, dan hidrokemis.

Namun kini ada sebuah metode yang unik dan sedang tren. Yakni terapi lumba-lumba (dolphin therapy). Lho kok lumba-lumba? Lumba-lumba merupakan makhluk cerdas yang memiliki kemampuan yang boleh dibilang ‘ajaib’. Seorang Ilmuwan dari Amerika Serikat  mengatakan bahwa lumba-lumba mampu berenang dengan kecepatan lebih dari 40 km per jam.

Seperti kita ketahui, hewan ini juga menggunakan sinyal ultrasonic untuk mendeteksi benda-benda di sekelilingnya. Lumba-lumba juga gemar bermain sehingga memudahkannya berinteraksi dengan manusia. Nah, kepandaian lumba-lumba berinteraksi dengan manusia inilah yang dimanfaatkan oleh banyak ilmuwan sebagai terapi pengobatan.

Seorang fisioterapis dari klinik dolphin di Taman Impian Jaya Ancol, mengatakan bahwa, suara lumba-lumba dapat merangsang saraf-saraf sensoris pada anak.

Agar terapi lumba-lumba ini mencapai hasil maksimal, klinik dolphin menyarankan program terapi 10 hari. Selama 10 pertama, pasien dengan kebutuhan khusus seperti autis wajib datang. Pada hari-hari awal, pasien hanya dikenalkan pada situasi dan kondisi. Selanjutnya,  pada hari keempat hingga ke sepuluh, pasien mulai diajak bermain dengan seekor lumba-lumba. Permainan biasanya seperti berenang bersama atau memberi makan lumba-lumba.

Setelah program sepuluh hari tesebut, perkembangan pasien kemudian dievaluasi. Dari hasil evaluasi itu selanjutnya ditentukanlah terapi lanjutan. Biasanya sepuluh hari pertama, kondisi pasien telah mengalami kemajuan berarti, seperti mampu berkonsentrasi dan mulai mampu berinteraksi dengan berbicara dengan pelatih lumba-lumba.

Penelitian Tentang Lumba-Lumba?

Sebenarnya metode penyembuhan dengan hewan ini sudah dikembangkan DR. David Nathanson, Ph.D, sejak tahun 1978 di Amerika Serikat. DR. Nathanson mengamati dan meneliti ketika manusia dan lumba-lumba saling berinteraksi. Awalnya ia mengajak anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental bermain-main dan berenang bersama lumba-lumba. Ternyata hasilnya anak-anak tersebut mampu menerima stimulasi dan mulai memberi perhatian.

Sementara hasil penelitian dari Vilchis Quiroz dari Medical Director Aragon Aquarium, Mexico City, Meksiko, menyatakan anak-anak yang mengalami down syndrome interaksi dengan lumba-lumba maka hormon endorfin pada manusia meningkat. Karena Hal tersebut membuat terbentuknya keseimbangan antara otak kiri dan kanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here