Para ilmuwan telah mengembangkan sebuah tes forensik yang dapat memprediksikan warna rambut dan mata seorang tersangka dengan menggunakan DNA yang tertinggal di lokasi kejahatan.

Tim yang mengembangkan tes mengatakan hasil itu dapat memberikan banyak petunjuk ketika pelaku kejahatan tidak dapat diidentifikasi melalui riwayat DNA yang disebut  sistem Hirisplex dapat membuat penyidik untuk membuat daftar pendek dari para tersangka.  Rincian mengenai sistem ini dimuat dalam jurnal Internasional Ilmu Forensik: Genetics.

Alat seperti Hirisplex dapat berguna untuk kasus dimana pelaku kejahatan benar-benar tidak diketahui oleh otoritas, kata Prof Manfred Kayser, yang memimpin studi tersebut.

Prof Kayser, dari Pusat Kesehatan Erasmus University di Rotterdam, Belanda mengatakan “Tes ini sangat sensitif dan memproduksi hasil yang lengkap meski DNA yang digunakan sangat kecil dibandingkan biasa digunakan dalam riwayat forensik DNA.”

Sistem tes itu juga meliputi enam pembuat DNA sebelumnya yang digunakan dalam tes untuk warna mata yang dikenal sebagai Irisplex, dan mengombinasikan dengan prediksi warna rambut.

Dalam studi, penulis menggunakan Hirisplex untuk memprediksi warna rambut pelaku kehajatan dalam sebuah contoh yang diambil dari tiga populasi di Eropa.

Rata-rata, prediksi mereka akurat yaitu 69,5% untuk rambut pirang, 78,5% rambut coklat, 80% untuk rambut merah dan 87,5% memiliki warna rambut hitam.

Analis contoh DNA di dunia memperkirakan hasil ini akan tidak mempedulikan seseorang yang memiliki keturunan yang mirip secara geografis.

Tim juga dapat menetapkan, dengan prediksi yang memiliki akurasi 86%, apakah seseorang memiliki mata coklat, rambut hitam itu merupakan non Eropa atau Eropa asli (di luar sejumlah wilayah seperti Timur Tengah). Penemuan itu juga disampaikan dalam konferensi Ilmu Foreksi dan akademisi Eropa yang keenam di Den Haag. (Kabari1002)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here