Dewasa ini tuntutan Malpraktek kedokteran semakin gencar, yang menunjukkan masyarakat semakin sadar akan hak-haknya sebagai subyek dan objek pelayanan kedokteran. Dalam konteks kedokteran, “Mal Praktek” sebetulnya merupakan musibah bagi pasien dan tentu saja bagi sang dokter. Karena itu dibutuhkan aturan yang tegas dari pemerintah baik berupa hukuman maupun aturan ganti rugi bagi pasien.

Sehingga dalam kasus di atas, yang perlu menjadi perhatian adalah sejauh mana dan dalam tingkatan yang mana pelanggaran atau mal praktek yang dilakukan oleh ketiga dokter kebidanan tersebut.

Dalam menilai tingkat kebenaran ataupun level kelalaian dokter, tentunya secara hukum, ada dua indikator utama sebagai rujukannya, yaitu: 1. Undang-undang praktek kedokteran, 2. Sumpah dan janji dokter, dalam kerangka etika kedokteran, yang dilandasi oleh pengetahuan kedokteran sebagai aspek ilmiahnya.

Kedua indikator tersebut di atas yang belum terpenuhi, sehingga keputusan MA seharusnya masih dapat ditinjau kembali, dan dibutuhkan sesegera mungkin dilakukan gelar perkara.

Jika tuntutan peninjauan ulang dan rasa ketenangan dalam menjalankan praktek profesi kedokteran tidak terpenuhi, akan memberikan dampak yang mengkhawatirkan terhadap pelayanan kedokteran, karena para dokter akan dibayangi rasa khawatir, dan ketakutan untuk melakukan tindakan medis, dan akan berdampak dalam jangka
panjang berupa penurunan kualitas pelayanan kedokteran secara keseluruhan.

BELAJAR DARI NEGARA MAJU

hukum kedokteranDi berbagai Negara maju, penerapan “check and balancing” serta kesamaan derajat di mata hukum telah diterapkan dengan baik, termasuk dalam hal penerapan hukum Mal Praktek. Demikian pula, para dokter telah memiliki perlindungan profesi demikian pula masyarakat umum, “pasien” telah memiliki pegangan hukum sebagai perlindungan pasien.

Demikian pula di negara-negara maju, pada umumnya dokter praktek telah memiliki asuransi yang berhubungan dengan malpraktek, sehingga jika terjadi malpraktek oleh dokter, maka ganti rugi akan ditanggung oleh pihak asuransi. Ini akan bermanfaat bagi pasien dan dokter, karena adanya kepastian hukum dan aturan yang jelas.

Untuk mencegah kasus malpraktek, minimal ada 3 aspek yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Aspek dokter; dokter juga adalah manusia biasa yang terkadang lalai karena kelelahan melayani pasien. Untuk mencegah malpraktek dan sekaligus menjaga standar keterampilan dan pengetahuan dokter maka dibutuhkan upgrade terus menerus. Salah satu caranya adalah dengan pembaharuan surat izin praktek tenaga kedokteran
    minimal setiap 5 tahun sekali dengan melalui ujian pengetahuan dan keterampilan klinik yang dilakukan oleh kolegium.
  2. Aspek aturan, seharusnya Departemen Kesehatan dan organisasi profesi kedokteran menetapkan aturan ketat yang berhubungan dengan tata cara dan regulasi yang berhubungan dengan praktek kedokteran dan tenaga medis.
  3. Aspek pasien, pasien mempunyai hak untuk mengontrol dan mengevaluasi dokter yang merawatnya.

Menyiapkan Dokter Indonesia di Era Global

(Gambar 3 Ilustrasi Dokter diera Global)Globalisasi industri dan jasa kesehatan tak bisa dibendung lagi, SDM kedokteran kita harus mempersiapkan diri agar bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Bahkan menarik pasien-pasien dari negara lain untuk berobat di Indonesia. Kunci untuk mencapai tujuan pelayanan kedokteran yang paripurna, sangat terkait dengan kemampuan dokter Indonesia, yang secara langsung berhubungan dengan sistem pendidikannya. Sehingga pendidikan kedokteran dewasa ini, adalah dibutuhkannya paradigma baru atau metode baru, bahkan kurikulum baru, supaya dokter Indonesia bisa bersaing secara internasional. Belajar dari Negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, Australia,
Thailand, Jepang, China, telah mengembangkan sistem pendidikan kedokteran Evidence-Based. Artinya, mahasiswa kedokteran mempelajari ilmu kedokteran berdasarkan kasus-kasus penyakit yang muncul, dengan tetap dilandasi pengetahuan dasar kedokteran.

Dalam menyiapkan diri dalam pertarungan pasar bebas pelayanan kedokteran. Dimana pada prinsipnya, pelayanan kesehatan termasuk pelayanan dokter berlaku universal. Artinya, sejak awal semua dokter di dunia disumpah dengan Sumpah Jabatan Dokter, yang intinya akan mengabdikan ilmunya untuk membantu menghilangkan penyakit atau penderitaan seseorang, bahkan menyelamatkan jiwa, berdasarkan asas kemanusiaan, dengan tidak membedakan warna kulit, agama, suku, paham politik dan kebangsaan.

Sehingga diperlukan regulasi atau pengaturan praktek kedokteran dalam konteks yang lebih universal. Sehingga dokter asing tak masalah praktek di Indonesia, asal memenuhi standar, prosedur, dan aturan pelayanan kesehatan yang ada. Karena itu dibutuhkan seleksi, perizinan, penyetaraan, dan evaluasi atau ujian bagi seluruh dokter,
termasuk bagi dokter asing yang ingin praktek di Indonesia. Sebagai contoh, beberapa negara maju seperti Amerika, Kanada, Jepang, dan Singapura mengizinkan praktek dokter asing, dengan syarat telah lulus ujian persamaan dan telah mendapat Surat Izin Praktek atau lisensi. Kalau di Amerika, dokter-dokter yang bisa berpraktek harus telah lulus the United States Medical Licensing Examination (USMLE), di Kanada disebut the Medical Council of Canada’s Evaluating Evaluating Examination (MCCEE), Singapura harus telah mendapat the Register of Medical Practitioners in Singapore. (Dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleVideo: Terobosan Kedokteran Nuklir
Next articleDr. Taruna Ikrar Menjadi Salah Satu Ikon Prestasi Indonesia
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here