Psikosomatik, diderita oleh puluhan juta penduduk dunia, yang sebenarnya psikosomatik merupakan gangguan psikis dan emosional yang melibatkan pikiran dan fisik biologi penderita yang pada akhirnya menyebabkan gangguan fisik. Beberapa keluhan fisik yang umumnya dirasakan penderita psikosomatik, di antaranya, sakit kepala,merasa lemah, banyak berkeringat, jantung berdebar, sesak napas, adanya gangguan pada lambung, diare, mual, dan lain sebagainya. Gejala tersebut dirasakan dengan frekuensi yang berulang, bahkan seringkali bisa kambuh dalam kurun waktu tertentu.

Penderita psikosomatik meyakini adanya kelainan pada fisiknya. Namun, setelah melalui konsultasi medis, tidak ditemukan kelainan apa pun, karena pada dasarnya, para penderita psikosomatik ini tidak bermasalah secara fisik, tetapi faktor psikisnya yang terganggu. Gejala yang dirasakan fisik tersebut ternyata hanya pengaruh dari faktor-faktor mental, seperti pikiran, stres, dan kecemasan. Secara umum gangguan psikosomatik disebabkan oleh beban pikiran yang tidak bisa keluar atau tersalurkan.

Gejala Psikosomatik

(Gambar 2 Mekanisme Gangguan psikosomatik)Gangguan psikosomatik ditandai keluhan fisik terutama pada sistem saraf otonom. Umumnya keluhan psikosomatik banyak berhubungan dengan sistem pencernaan, pernapasan dan jantung yang pada dasarnya juga mengindikasikan terjadinya gangguan psikologis yang tidak seimbang.

Psikosomatik akan memengaruhi sistem saraf dan hantaran listrik otak (neurotransmitter) yang dapat berimbas pada keluhan fisik. Secara sederhana, gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang disebabkan faktor psikologis.

Beberapa penyakit fisik diyakini memiliki komponen mental yang berasal dari ketegangan akibat bencana atau tekanan hidup sehari-hari. Sebagai contoh, misalnya, rasa nyeri punggung bagian bawah dan tekanan darah tinggi, gangguan dan perasaan berdebar-debar dan kecemasan yang terkait dengan tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, gangguan psikosomatik, merupakan gangguan di mana faktor mental memainkan peran yang dominan dalam mengekspresikan penyakit fisik.

Misalnya, seseorang yang menjadi korban gempa akan merasakan adanya getaran karena ada truk besar yang lewat di depan rumah lantas menjadi berteriak histeris ketakutan dan mengira telah terjadi gempa besar lagi.

Demikian pula depresi lebih ditandai dengan hilangnya motivasi atau semangat hidup. Mereka cenderung menyendiri dan menarik diri dari orang-orang di sekitarnya, merasa sedih yang mendalam, merasa hidupnya tidak lagi berarti, dan bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

(Gambar 3 Infeksi Helicobacter Pylori)Keluhan yang lain, seseorang korban gempa sering merasakan keluhan jantung berdebar dan sesak napas, keluhan lambung sering juga ditemukan sebagai salah satu keluhan. Bahkan, penderita  psikosomatik biasanya mengeluh adanya keluhan lambung seperti rasa penuh, kembung, banyak gas atau sering terasa ada yang ingin keluar dari mulut.

Gejala keluhan lambung ini seringkali dalam bahasa kedokteran kita sebut Dispepsia Fungsional. Ulkus peptikum pernah dianggap sebagai murni disebabkan oleh stres, kemudian penelitian mengungkapkan bahwa Helicobacter Pylori  menyebabkan 80% dari luka yang terjadi di lambung tersebut. Namun 4 dari 5 orang terjangkiti oleh bakteri Helicobacter pylori tidak menyebabkan borok. Academy of Behavioral Medicine menyimpulkan bahwa borok atau luka tidak hanya disebabkan oleh bakteri tersebut, tetapi faktor mental, memainkan peran yang sangat penting. Satu kemungkinan adalah bahwa stres mengalihkan energi dari sistem kekebalan tubuh, sehingga stres mempromosikan
infeksi Helicobacter pylori dalam tubuh.

Pengobatan Psikosomatik

Jika pemeriksaan objektif sudah dilakukan dan tidak menampakkan adanya kelainan fisik, maka seseorang perlu menyadari, mungkin ini adalah keluhan psikosomatik. Untuk itu perlu segera melakukan pemeriksaan ke dokter atau psikiater yang memahami penyakit dan keluhan psikosomatik.

(Gambar 4 Strategi Pengobatan psikosomatik)Pengobatan keluhan ini akan berfokus pada kondisi fungsional otak dan psikologisnya. Sebagaimana diketahui bahwa dalam kondisi terjadi gangguan mental, akan berdampak pada gangguan fungsional otak. Sehingga pengobatan biasanya dengan menggunakan obat-obatan dan psikoterapi.

Penggunaan obat anti-cemas (Alprazolam dalam beberapa merek di antaranya; Xanax, Alganax, Alviz, atau Zypraz), sebaiknya dihindari atau jika sangat perlu dipakai dalam waktu yang sangat terbatas.

Psikoterapi dan penggunaan obat antidepresan adalah yang utama. Perawatan medis dan psikoterapi digunakan untuk mengobati gangguan psikosomatik. Pengobatan awal biasanya menggunakan obat-obat seperti Domperidone. Jika tidak ada perubahan maka sebaiknya mulai memikirkan apakah ini merupakan keluhan yang didasari keluhan psikosomatik. (Dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleVideo: Mayasari Lim: Prospek 3D Bio-Printer di Masa Depan dengan Stem Cell
Next articleCara Aman Sayangi Mata
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here