Kejang Epilepsi

(Gambar 2 Ilustrasi Terjadinya Serangan Kejang Epilepsi)Telah lebih 100 tahun, penyakit kejang (epilepsy) menjadi perhatian para ilmuwan. Mereka berusaha keras untuk mencari tahu dan sekaligus berupaya untuk mengobatinya. Pada umumnya pengobatan kejang epilepsi didasarkan pada pengamatan klinis. Dengan diperkenalkannya pengobatan antikejang yang efektif dalam abad ke 20, dan perspektif yang dikembangkan dari analisa klinis dan epidemiologi kontemporer, sangat jelas bahwa epilepsi tidak selalu progresif. Namun demikian, sebagian besar pasien menunjukkan mengalami peningkatan frekuensi kejang yang semakin progresif. Bahkan lebih dari 50 persen pasien terus mengalami kejang meskipun telah diberi obat secara optimal.

Teknik pengobatan epilepsi selama dua dekade terakhir, mengalami kemajuan yang luar biasa. Demikian pula dalam pemahaman terhadap fisiologi sistem sirkuit saraf dalam merespons aktivitas saraf yang menjadi dasar munculnya kejang.

(Gambar 3 Ilustrasi Sel-sel saraf pada Saat terjadi Kejang)Kemajuan pengobatan epilepsi sangat tergantung pada perkembangan pengetahuan klinis dan epidemiologis. Kejang pada prisipnya merupakan manifestasi dari ketidakseimbangan aliran dan sirkuit listrik di otak. Ia pada dasarnya juga ditentukan oleh ketidakseimbangan antara jenis sel-sel saraf yang berfungsi sebagai inhibitory (sel-sel saraf pengontrol) dan sel-sel saraf excitatory (sel-sel saraf yang menimbulkan loncatan arus listrik atau rangsangan). Jika sistem saraf excitatory yang dominan dan tidak teratur selanjutnya kondisi ini menyebabkan loncatan arus listrik di otak yang tidak terkendali, dan pada akhirnya bermanifestasi berupa kejang, mulai dari level ringan hingga level yang sangat berbahaya.

Berdasarkan mekanisme di atas, dewasa ini, para ahli mendapatkan pemahaman baru dalam upaya memanipulasi atau mengobati kelainan kejang tersebut. Cara yang digunakan yaitu dengan secara spesifik memanipulasi atau mengontrol sinkronisasi fungsi kedua sistem saraf tersebut.

Perkembangan Pengobatan

Dengan kemajuan teknis penelitian neurosains dewasa ini, para ahli memungkinkan mengontrol dan mengatur aktivitas sirkuit saraf dengan menggunakan teknologi yang mempunyai tingkat resolusi dan temporal yang sangat canggih. Hal ini dilakukan dengan teknik aktivasi genetik yang dapat mengaktivasi molekul atau menurunkan kemampuan aktivitas sel-sel saraf yang menjadi pencetus munculnya kejang. Metode ini dapat memanipulasi reseptor allatostatin (AlstR)/sistem ligan yang telah dikembangkan untuk menenangkan secara selektif dan dapat bekerja secara cepat pada sistem saraf mamalia.

AlstR dijadikan sebagai target untuk menurunkan aktivitas jenis saraf tertentu yaitu jenis saraf excitatory yang menimbulkan loncatan listrik di dalam otak. Selanjutnya secara spesifik merangsang fungsi inhibitory neuron yang berfungsi sebagai pengontrol kesinambungan cetusan arus listrik di dalam otak.

(Gambar 4 Penemuan Terbaru Tentang Pengobatan Epilepsy).Metode ini menjadi harapan yang sangat besar dan diharapkan efektif dalam metode pengobatan penyakit kejang epilepsi. Hasil penemuan tersebut dipublikasikan di Journal Kedokteran terkemuka (Ikrar dkk, Frontiers of Neural Circuit, 2012).

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ekspresi Cre-AlstRs secara khusus menyandi sistem saraf jenis inhibitory (saraf pengontrol) di korteks otak yang menunjukkan dapat bekerja secara spesifik untuk meng-inaktivasi saraf pada saat diberikan obat allatostatin. Ini berarti dapat secara spesifik dan berefek kuat baik pada tingkat sel tunggal ataupun dalam tingkatan populasi sel-sel saraf.

Selain itu, pada jenis mamalia, penerapan peptida allatostatin juga memberikan efek yang sangat nyata dengan mengurangi aktivitas loncatan listrik. Pada penelitian yang menggunakan AlstR dengan ekspresi sel saraf dalam menanggapi suntikan saat Intrasomatic dan Photostimulation, namun secara kontras, sistem saraf yang menjadi kontrol tanpa ekspresi AlstR tidak terpengaruh sama sekali. Hasil yang sama juga ditunjukkan dengan menggunakan metode penelitian untuk mendeteksi populasi sel-sel saraf.

Dengan kedua hasil penelitian di atas, menjadi suatu harapan metode pengobatan yang sangat efektif bagi penderita penyakit kejang epilepsi dalam berbagai tingkatan. Khususnya bagi penderita epilepsi menahun dan sangat parah, yang sampai dewasa ini belum ada obatnya. (Dr. Ikrar/ foto: dok. Ist)

SHARE
Previous articleVideo : Tanya Dokter : Penggunaan Obat Yang Tepat
Next articleVideo: Pentingnya General Check-Up Kesehatan
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here