(Gambar 1 Anatomy Gastro Esophagus.)Mungkin di antara kita pernah ada yang mengalami perasaan mulas di perut, disertai terasa ada makanan yang balik ke kerongkongan setiap habis menelan (Regurgitation), bahkan disertai kesulitan menelan (disfagia), dan sakit pada saat menelan (odynophagia), demikian pula terasa air liur berlebihan dan nyeri di dada. Ini semua merupakan gejala umum, yang dalam ilmu kedokteran disebut Reflux Esophagus. Penyakit ini lazim disebabkan oleh kerusakan mukosa pada lambung yang berdampak pada ketidaknormalan Reflux Esophagus.

Hal Ini biasanya disebabkan oleh perubahan yang sementara atau permanen pada sphincter batas antara kerongkongan bagian bawah (Esophagus) dan lambung (Gaster), relaksasi sphincter esophagus, atau adanya hernia di hiatus pada sistem organ pencernaan.

Penyakit ini juga dapat menyerang anak-anak dengan gejala yang bervariasi. Biasanya dapat menyebabkan muntah yang berulang-ulang, batuk, dan masalah pencernaan lainnya. Anak sering menangis, timbul gangguan pertumbuhan dan berat badan karena anak selalu menolak makan, dengan gejala tambahan mulut yang berbau, dan sering bersendawa.

Dalam studi epidemologi atau kesehatan masyarakat diperkirakan, bahwa dari sekitar 4 juta bayi yang lahir di Amerika Serikat (AS) setiap tahunnya, sekitar 35% dari mereka mungkin memiliki kesulitan dengan refluks dalam beberapa bulan pertama kelahiran mereka, yang ditandai sebagai muntah-bayi.

Jika kita menggunakan endoskopi akan terlihat struktur peptikum, atau penyempitan kerongkongan bagian bawah. Ini merupakan komplikasi penyakit reflux gastroesophageal kronis dan dapat menjadi penyebab disfagia atau kesulitan menelan.

FAKTOR PENCETUS REFLUX ESOPHAGUS

Gambar 3 Faktor Pencetus Refluks Esofagus)Ada beberapa faktor pencetus Reflux Esophagus, antara lain:

  • Ia merupakan hernia pada diafragma yang merupakan pembatas antara ruang dada (Thorax) dan rongga perut (Abdomen).
  • Obesitas atau kegemukan. Dalam laporan gastroenterology ditemukan bahwa 13% dari 2000 pasien dengan gejala penyakit refluks disebabkan oleh perubahan dalam indeks massa tubuh dan kegemukan. Mereka juga mengalami gangguan tidur berupa Sleep Apnea Obstruktif.
  • Hyperkalsemia. Atau kelebihan unsur kalsium dalam tubuh selanjutnya dapat meningkatkan produksi gastrin, serta mengakibatkan peningkatan keasaman lambung. Kondisi ini akan memperparah Reflux Esophagus. Penggunaan obat-obatan seperti prednisolone dapat memperparah tukak lambung.
  • Makanan dan gaya hidup. Makanan tertentu dan gaya hidup bisa menjadi faktor yang mencetuskan
    gastroesophageal reflux. Telah diketahui bahwa kopi dan alkohol dapat merangsang sekresi asam lambung.

TIPS UNTUK MENGATASI REFLUX ESOPHAGUS

  • Basic RGB-PDPosisi tidur . Tidur dengan menghadap ke sisi kiri telah terbukti mengurangi episode refluks malam hari pada pasien. Hal ini disebabkan karena posisi lambung berada di sebelah kiri perut. Demikian pula perlu mengatur ketinggian elevasi badan dan kepala 6-8 inci (15-20 cm). Hal ini untuk mencegah aliran balik cairan lambung.
  • Modifikasi gaya hidup lainnya. Menghindari merokok, pengurangan kelebihan berat badan atau obesitas, demikian pula jangan memakai pakaian ketat yang dapat menekan perut.
  • Menggunakan obat-obatan. Sejumlah obat yang telah terbukti dalam uji klinis efektif untuk mengobati Reflux Esofagus, di antara adalah: antacid, omeprazol, esomeprazole, pantoprazole, lansoprazole, dan rabeprazole; obat-obatan ini efektif dalam mengurangi sekresi asam lambung.
  • Pembedahan. Jika dengan cara pengobatan di atas tidak efektif dan untuk menghindari komplikasi yang lebih parah, maka tindakan terakhir yang bisa dilakukan oleh dokter adalah pembedahan. Perawatan bedah standar untuk kasus seperti ini dikenal dengan teknik Nissen fundoplication.

Prosedur ini menggunakan laparaskopi dan pada bagian atas dari lambung dililitkan bahan silikon, yang dimaksudkan untuk memperkuat sphincter esophageal. Sehingga refluks esophagus atau kembalinya asam lambung ke kerongkongan dapat dicegah. Selain itu dapat dilakukan vagotomy, yaitu; bedah pada saraf vagus, sehingga cabang-cabang saraf yang mempersarafi usus dan lambung dapat dikurangi yang berdampak pengurangan iritabilitas atau sensitivitas sphincter esophagus. (Dr. Ikrar & foto: dok.ist)

SHARE
Previous articleVideo: Nitric Oxida Berperan Dalam Pencegahan Dan Penyembuhan
Next articleVideo: Terapi Genetik Pada Penderita Kelainan Jantung Bawaan
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here