Beberapa hari terakhir ini, media massa Indonesia diramaikan atas tuntutan LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender) atau dalam pandangan umum, kelompok homoseksual atau lesbian. Keyakinan ilmuwan secara umum saat ini bahwa orientasi seksual (termasuk homoseksual dan biseksual) merupakan hasil dari kombinasi lingkungan, emosional, hormonal, dan faktor biologis. Dengan kata lain, ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap orientasi seksual seseorang, dan faktor-faktor lain yang mungkin bervariasi bagi beberapa orang.

Penyebab Disorientasi Seksual

Fase Perkembangan Seksual Sekunder
Fase Perkembangan Seksual Sekunder

The American Academy of Pediatrics menyatakan di Pediatrics pada tahun 2004 bahwa orientasi seksual mungkin tidak ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh kombinasi bakat, hormonal, dan pengaruh lingkungan. Selanjutnya banyak teori tentang perkembangan orientasi seksual melibatkan perkembangan saraf janin, dengan model yang diperlihatkan atas paparan hormon, imunitas ibu, dan ketidakstabilan perkembangan. Secara hormonal, telah dibuktikan dalam penelitian bahwa hormon androgen pada fase prenatal memberikan efek pada perkembangan otak janin. Demikian pula akibat terpaparnya sistem hormone testosterone pada fase prenatal akan memengaruhi perkembangan orientasi seksual.

Sampai sekarang, belum ada bukti dan evidence yang kuat yang mendukung teori, bahwa orang yang mengalami disorientasi seksual disebabkan oleh faktor perubahan atau mutasi genetik tertentu di kromosom. Sehingga faktor lingkungan, makanan, sosial dan budaya bisa memberikan pengaruh yang dominan sehingga seseorang mengalami disorientasi seksual, seperti homoseksual ataupun lesbian.

Di lain sisi, ada beberapa penyakit seperti seksual translation yang mangalami kelainan genetik yang kita sebut kongenital yang diakibatkan oleh perubahan susunan kromosom. Seperti misalnya, pada kromosom sexnya, menjadi XXY, atau bahkan XXXY, tetapi kelainan ini berbeda dengan LGBT. Karena ini adalah kongeniatal atau kelainan bawaan genetik yang berakibat kelainan organ secara fisik. Sedangkan orang-orang LGBT secara umum, yang lagi memperjuangkat hak-hak mereka, tidak mengalami kelaianan kromosom seperti itu, struktur kromosom mereka normal.

Fungsi Otak Penderita Disorientasi Seksual

Selanjutnya kalau melihat hubungannya dengan struktur saraf, atau struktur otak. Dalam ilmu neurosains, diketahui secara makro struktur otak, bahwa tidak ada perbedaan anatomi antara pria, wanita, ataupun transgender seperti homo ataupun lesbian. Namun secara fungsional dengan menggunakan FMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), suatu teknik pencitraan otak yang melihat fungsi berdasarkan electromagnetic, neurotransmitter, neurochemical, dan neuro-hormonal terdapat beberapa perbedaan densitas secara pencitraan.

Otak adalah bagian paling kompleks dari tubuh manusia. Organ ini memiliki fungsi utama sebagai pusat kemampuan berpikir, kecerdasan, mengingat, inovasi, serta pusat penafsiran terhadap fungsi panca indra, inisiator gerakan tubuh, dan pengendali perilaku, termasuk di dalamnya orientasi seksual ditentukan oleh cara berpikir seseorang terhadap lawan jenisnya. Secara struktural otak terdiri atas 100 miliar sel saraf (neuron) yang saling berhubungan. Hubungan antarsel saraf disebut sinaps. Hubungan sel saraf (sinaps) terjadi melalui impuls listrik dan kimiawi dengan neurotransmiter sebagai perantara. Neurotransmiter berperan dalam pengaturan sistem kerja antarneuron. Jika terjadi gangguan pada neurotransmiter, neuron akan bereaksi abnormal. Ada dua golongan sel saraf, excitatory dengan neurotransmiter kimiawi (glutamat) dan inhibitory dengan neurotransmiter gamma aminobutyric acid (GABA). Kedua jenis sel saraf itu berfungsi seimbang untuk melaksanakan fungsi otak. Ada banyak faktor yang memengaruhi fungsi otak, antara lain faktor genetik, psikologi/kejiwaan, lingkungan, temperatur, makanan, dan minuman. Dalam ilmu saraf dikenal istilah plastisitas otak, yakni kapasitas sistem saraf untuk mengubah struktur dan fungsinya sebagai reaksi terhadap keragaman lingkungan.

Gambaran Dinamika Fungsi Otak dengan menggunakan fMRI
Gambaran Dinamika Fungsi Otak dengan menggunakan fMRI

Sehingga cara berpikir dan orientasi seksual tersebut, sangat dipengaruhi oleh pola pikir seseorang, yang tentu saja menentukan hubungan antara sel-sel saraf otak tersebut. Dalam ilmu neurosains ada tiga bentuk utama dari plastisitas otak adalah plastisitas sinaptik, neurogenesis, dan fungsional kompensasi. Plastisitas sinaptik terjadi ketika otak terlibat dalam pembelajaran dan pengalaman baru serta kesenangan baru dan seterusnya. Akan terjadi interaksi dan networking baru pada hubungan sel-sel saraf di otak. Neurogenesis merupakan proses kelahiran dan proliferasi neuron baru di dalam otak. Sel induk dapat mengalami proliferasi dan berkembang menjadi sel piramidal dan sel yang akan berkembang menjadi sel-sel dewasa yang memiliki akson dan dentrit. Sel-sel saraf baru akan bermigrasi ke sejumlah daerah di otak untuk merehabilitasi sel-sel yang rusak atau mati. Fungsional kompensasi terjadi pada saat seseorang menua, plastisitas otak akan menurun. Namun, tidak semua orang tua menunjukkan kinerja lebih rendah. Bahkan, beberapa orang mencapai kinerja lebih baik dibandingkan dengan yang lebih muda. Studi terbaru menunjukkan, otak mencapai solusi fungsional melalui aktivasi jalur saraf alternatif, yang paling sering mengaktifkan daerah di kedua belahan otak.

Artinya, berdasarkan penjelasan di atas, jika seseorang karena pengaruh lingkungan, pengalaman dia terhadap jenis sex tertentu, ataupun akibat trauma tertentu, maka secara neuroplastisitas akan terstruktur hubungan tertentu di otak, dan akhirnya menyebabkan mereka akan suka pada jenis orientasi seksual tertentu, yang boleh jadi kesukaan mereka bertentangan dengan pemahaman manusia normal secara umum, hal ini disebut disorientasi seksual.

Akibat selanjutnya, akan menyebabkan ketertarikan mereka pada sesama jenis seksual, dan tentu saja secara fungsional umum, akan meregulasi sistem hormonal tertentu atau neurotransmitter tertentu, dan menetap dalam pikiran, keyakinan, ketertarikan, serta gairah seperti yang dialami oleh orang-orang LGBT. Jika mereka telah berkeyakinan demikian, maka secara fungsional setelah melalui penelitian fungsi otak dengan menggunakan FMRI ataupun metode pencitraan setelah melihat otak postmortem antara orang heteroseksual, homoseksual akan terlihat perbedaan imaging. karena diawali oleh perbedaan tersebut.

Pencegahan dan Penatalaksanaan

Sehingga berdasarkan etiologi atau faktor penyebabnya, maka yang terbaik dilakukan untuk orang dengan kecenderungan LGBT, adalah suatu usaha pencegahan sejak dini. Namun jika telah terjangkiti kelaianan ini, maka tentu dapat diobati atau disembuhkan dengan upaya yang keras dan kemauan berubah dari seseorang yang mengalami disorentasi seksual dapat disembuhkan. Proses penyembuhannya tentu atas bantuan banyak pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga operasi ganti kelamin. Demikian pula boleh dilakukan dengan terapi hormonal.

Cara terbaik adalah memberikan melakukan pencegahan sebelum anak-anak remaja mengalami atau terpengaruh oleh orientasi seksual yang salah. Oleh karena itu, bimbingan tentang orientasi seksual yang benar perlu dilakukan, khususnya oleh orang tua, guru, dan juga oleh lingkungan sekitarnya. Selain pengobatan, yang terpenting adalah melakukan pencegahan terhadap anak. Di Indonesia, ada banyak lembaga sosial, seperti remaja masjid, pramuka, OSIS dan lain-lain. Sebaiknya, lembaga-lembaga tersebut juga membuka klinik LGBT, yang memberikan bimbingan
dan penyuluhan sosial, kesehatan dan keagamaan kepada penderita disorientasi seksual, baik secara langsung maupun melalui media online Selain itu, pemerintah bersama masyarakat dihimbau sesegera mungkin, melakukan kampanye besar-besaran untuk memberikan penyuluhan. Demikian pun hal lain yang sangat penting, perlunya melakukan pendekatan kepada para pemimpin di media massa, khususnya media televisi, agar pencegahan penyimpangan orientasi seks. Dan yang terakhir dan paling penting, perlu penyadaran dari keluarga sebagai dasar utama dan awal dari perubahan perilaku tersebut. (Dr.Ikrar)

SHARE
Previous articleRagam Manfaat Masker Gula
Next articleVideo: Kerusakan Otot Yang Berbahaya
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here