Kehadiran seorang anak dalam keluarga merupakan kebahagiaan. Namun, terkadang bayi lahir cacat. Hal ini menjadi kesedihan tersendiri bagi keluarga. Lalu apa yang menyebabkan hal itu? bagaimana mengantisipasinya?

Kelahiran seorang bayi merupakan idaman dan sekaligus kebahagiaan bagi suatu keluarga. Bahkan merupakan suatu hadiah atau anugerah yang tak ternilai harganya bagi kedua orang tuanya. Tetapi terkadang kelahiran bayi yang cacat, misalnya berupa bibir sumbing, kehilangan pendengaran, bahkan ketiadaan kaki atau anggota tubuh lainnya merupakan suatu bencana. Bencana ini bisa berakibat kesedihan dan penyesalan yang mendalam dan tidak berkesudahan bagi orang tua dan keluarga sang bayi.

Kecacatan bayi (Congenital Disorder) diketahui terjadi sekitar 3-5% dari semua bayi yang baru lahir dan sekaligus menjadi salah satu penyebab utama kematian bayi. 7 sampai 10% persen dari semua anak yang lahir dengan kecacatan membutuhkan perawatan medis secara khusus. Meskipun kemajuan yang signifikan telah dicapai dalam mengidentifikasi etiologi atau penyebab beberapa kecacatan janin, namun masih banyak misteri yang belum terungkap.

Di masa lalu, diyakini bahwa janin (embrio) di dalam rahim berkembang secara baik di dalam kandungan, bahkan diyakini rahim ibu kebal terhadap berbagai faktor eksternal. Namun, setelah bencana Thalidomide (obat penenang) pada tahun 1960-an, menjadi jelas dan lebih nyata bahwa embrio atau janin yang berkembang di dalam rahim ibu, akan sangat rentan terhadap faktor lingkungan tertentu. Pada orang dewasa mungkin tidak beracun sedikitpun, tetapi pada janin bisa sangat berbahaya.

Terpaparnya janin selama masa kehamilan terhadap teratogenik dapat mengakibatkan berbagai kelainan struktural dan anatomi janin, berupa bibir sumbing (cleft), ketidaklengkapan anggota tubuh (dysmelia), lahir tanpa kepala (anencephaly), dan kelainan jantung (ventricular septal defect). Jenis dan tingkat kelainan yang ditemukan pada janin, tergantung pada tingkat keparahan paparan zat teratogenik, serta tahap perkembangan janin di dalam kandungan, khususnya pada trimester pertama kehamilan merupakan fase yang sangat rentan.

PROSES KECACATAN JANIN

Setelah bencana Thalidomide pada tahun 1960-an, para ahli berupaya mengungkap faktor-faktor yang bisa menyebabkan kelainan pada janin tersebut—yang dalam ilmu kedokteran modern disebut Teratology. Sebuah kajian yang dipublikasikan pada tahun 2010 telah disepakati oleh para ahli, ada 6 mekanisme teratogenik utama yang terkait dengan penggunaan obat-obatan.

  • Antagonisme asam folat (zat yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin).
  • Gangguan stimulasi sel saraf (sistem persarafan yang merupakan suatu sistem regulasi di dalam tubuh janin).
  • Gangguan endokrin (pada pertumbuhan dan perkembangan janin, dibutuhkan suatu metabolisme yang normal dan kelak memengaruhi perkembangan janin, sehingga jika dalam fase pertumbuhan janin tersebut terganggu akibat kelainan metabolisme endokrin, tentunya akan berdampak pada bentuk dan penampilan janin).
  • Stres oksidatif, yang jika hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh kelainan oksidatif hipoksia atau kekurangan oksigen janin. Hal ini akan berdampak pada perkembangan otak sang janin, yang kelak berakibat retardasi mental.
  • Gangguan pembuluh darah janin, dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Hal ini didasarkan bahwa fungsi pembuluh darah sebagai alat transportasi di dalam tubuh janin.
  • Gangguan reseptor-spesifik yang dimediasi oleh enzim teratogenesis. Jika gangguan ini terjadi sebagai manifestasi kelainan genetik, maka dapat diprediksi perkembangan janin kelak akan mengalami kelainan dan kecacatan tubuh.

Selain enam mekanisme di atas, diketahui pula prinsip-prinsip dan panduan pemahaman tentang zat teratogenik dan efeknya pada perkembangan janin, yaitu kerentanan janin terhadap zat teratogen tergantung pada faktor genetik janin selama konsepsi, serta cara janin berinteraksi dengan faktor lingkungan yang merugikan tersebut.

Kerentanan dalam proses teratogenesis akan bervariasi dan tergantung pada tahap perkembangan janin di dalam rahim pada saat terpapar oleh pengaruh yang merugikan tersebut.

Zat teratogenik tersebut dapat berinteraksi dengan cara tertentu pada perkembangan sel-sel dan jaringan dalam menstimulasi berbagai rangkaian perkembangan abnormal janin.

Akses yang berpengaruh buruk dalam perkembangan jaringan janin tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan teratogenik, seperti sifat dari zat teratogen, rute dan tingkat paparan pada ibu. Demikian pula tingkat kemampuan zat teratogenik tersebut dalam melewati plasenta dan penyerapannya secara sistemik.

Secara umum, ada empat manifestasi akibat kelainan janin, yaitu kematian, kelainan, retardasi pertumbuhan, serta kecacatan fungsional janin.

Manifestasi penyimpangan perkembangan janin juga tergantung terhadap tingkat dan dosis obat yang dikonsumsi yang berpengaruh terhadap perkembangan janin dan kerusakan yang ditimbulkannya.

PENYEBAB KECACATAN JANIN

Penyebab Kecatatan Janin
Penyebab Kecatatan Janin

Untuk melindungi masyarakat dan keluarga dari kecacatan janin selama masa kehamilan, sebaiknya masyarakat memahami beberapa bahan kimia dan faktor lingkungan yang diduga atau diketahui bisa berakibat kecacatan janin (teratogenik) pada manusia:

  • Obat-obatan dan zat kimia dari lingkungan yang telah diketahui dapat berakibat kecacatan janin, misalnya minuman beralkohol (etanol), jenis psikotropik dan narkotik (nitrazepam atau mogadon), hormon androgenik yang kadang digunakan sebagai obat pertumbuhan, obat hipertensi (kaptopril, enalapril), obat penenang dan juga antiepilepsis seperti diphenylhydantoin (Fenitoin, Dilantin, Epanutin), zat beracun berupa (bromida etidium, merkuri, antibiotik (tetrasiklin), demikian pula thalidomide.
  • Radiasi seperti sinar X (foto Rontgen), terapi radiasi, serta zat radioaktif lainnya.
  • Infeksi selama masa kehamilan, bisa berupa infeksi virus (Sitomegalovirus, virus herpes, virus rubella, virus ensefalitis, HIV), atau infeksi bakteri (sifilis, Gonorrhea), dan parasit (toksoplasmosis).
  • Ketidakseimbangan metabolisme pada ibu hamil, berupa diabetes, defisiensi atau kekurangan asam folat, kekurangan atau defisiensi zat yodium, demikian pula penyakit rematik dan kelainan jantung.
  • Tembakau, alkohol, dan kafein yang berlebihan diketahui dapat berakibat buruk pada sistem pembuluh darah janin.
  • Beberapa jenis obat jerawat, misalnya Isotretinoin dengan merek dagang Roaccutane telah diketahu sebagai suatu zat teratogen yang kuat dan dapat menyebabkan kecacatan serius pada janin. (Dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleVideo: Penyakit Ebola Yang Mematikan
Next articleSibuk? Lakukan 5 Olahraga Ringan Ini
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here