Masyarakat dunia mengalami kecemasan dengan mewabahnya penyakit ebola. Anda perlu mengetahui gejala dan cara mencegah penyakit mematikan ini.

Penyakit yang telah membunuh hampir 4 ribu jiwa, serta telah menginfeksi lebih dari puluhan ribu penduduk dunia dalam waktu yang begitu cepat dan sedang melanda Afrika bagian Barat. Demikian pula masyarakat Amerika Serikat, semakin cemas, dengan ditemukannya kasus Ebola pertama yang didiagnosis di Amerika Serikat, setelah seseorang baru pulang setelah bepergian ke Liberia.

. (Gambar 2 Daerah Penyebaran Virus Ebola)
Daerah Penyebaran Virus Ebola)

Infeksi Virus Ebola adalah penyakit yang berakibat fatal pada manusia, karena keparahan dan menyebabkan kematian hingga 90% dari kasus penderita yang terjangkit virus ebola. Virus ini ditularkan kepada orang, yang berasal dari hewan liar dan menyebar pada populasi manusia melalui penularan dari manusia ke manusia.

Berdasarkan sejarahnya, Ebola pertama kali menyebar pada tahun 1976. Ebola menginfeksi populasi manusia melalui kontak dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi. Di Afrika, infeksi telah didokumentasikan melalui penanganan simpanse yang terinfeksi, gorila, kalong, monyet, kijang hutan dan landak yang ditemukan terinfeksi penyakit ini, dan bahkan menyebabkan kematian.

Ebola kemudian menyebar di masyarakat melalui transmisi dari manusia ke manusia, berupa infeksi dengan jalan kontak langsung (melalui kulit yang luka atau selaput lendir) dengan darah, sekresi, atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi, dan kontak tidak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi dengan cairan tersebut. Bahkan pria yang telah sembuh dari penyakit ini masih bisa menularkan virus melalui air mani hingga 7 minggu setelah kesembuhannya.

GEJALA UTAMA

Penyakit akibat virus Ebola merupakan penyakit akut yang parah, sering ditandai oleh demam mendadak, intens kelemahan, nyeri otot, sakit kepala dan sakit tenggorokan. Ini diikuti dengan muntah, diare, ruam, gangguan fungsi ginjal dan hati, dan dalam beberapa kasus, bisa terjadi perdarahan internal dan eksternal. Temuan laboratorium termasuk sel darah dan trombosit jumlah putih yang rendah dan peningkatan enzim hati.

Dalam darah dan sekresi penderita ditemukan atau mengandung virus Ebola. Virus Ebola juga dapat ditemukan pada air mani penderita, hingga 61 hari setelah sakit pada seorang pria yang terinfeksi. Masa inkubasi virus Ebola atau interval waktu dari infeksi virus hingga timbulnya gejala, sekitar 2-21 hari.

Penyakit lain yang memiliki gejala seperti penderita virus Ebola, antara lain malaria, demam tifoid, shigellosis, kolera, leptospirosis, pes, rickettsiosis, kambuh demam, meningitis, hepatitis dan demam berdarah. Infeksi virus Ebola dapat didiagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium melalui beberapa jenis tes, seperti antibodi-capture enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA), tes deteksi antigen uji netralisasi serum terbalik transcriptase polymerase chain reaction (RTPCR) assay mikroskop elektron isolasi virus dengan kultur sel. Sampel dari pasien risiko Biohazard ekstrim, pengujian harus dilakukan dalam kondisi penahanan maksimum biologis.

Tidak ada vaksin yang manjur untuk pencegahan virus Ebola. Beberapa vaksin sedang diuji, tetapi tidak ada yang tersedia untuk penggunaan klinis. Parah pasien sakit membutuhkan perawatan pendukung yang intensif. Pasien sering mengalami dehidrasi dan membutuhkan rehidrasi oral dengan larutan yang mengandung elektrolit atau cairan intravena. Tidak ada pengobatan khusus yang tersedia. Terapi obat baru sedang dievaluasi.

SISTEM AMERIKA SERIKAT DALAM PENCEGAHAN PENYEBARAN EBOLA

(Gambar 4 Upaya Pencegahan Penyebaran Ebola)
Upaya Pencegahan Penyebaran Ebola)

Mengontrol infeksi Ebola yang sampai sekarang belum ada vaksinnya, tentu merupakan pekerjaan berat, sehingga perlu dilakukan suatu upaya yang menyeluruh dan terintegrasi. Upaya tersebut perlu dilakukan di semua tingkatan, mulai dari pemerintah, pekerja kesehatan dan masyarakat luas.

Strategi yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat dalam mengontrol dan mencegah penyebaran Ebola, dilakukan secara terintegrasi. Sistem ini sangat layak, diberlakukan di Indonesia, karena cepat atau lambat, penyebaran Ebola akan sampai juga ke Indonesia.

Jika wabah Ebola bersifat endemik pada suatu wilayah, maka tempat terjadinya wabah dan masyarakat terekspos harus dikarantina sesegera mungkin. Di Amerika Serikat, badan yang bertanggungjawab langsung terhadap pencegahan adalah CDC (Central for Diseases Control and Prevention), yang secara resmi prototape pencegahan sebagai berikut:

UNTUK MASYAKAT LUAS

Jika bepergian ke atau berada di daerah yang terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan prosedur, berupa perhatikan dan jaga kebersihan. Misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan air atau alkohol pembersih, serta yang utama, hindari kontak dengan darah dan cairan tubuh penderita. Jangan kontak dan menggunakan pakaian, selimut, jarum, dan peralatan medis, dari orang yang pernah terinfeksi Ebola. Jangan menyentuh seseorang yang telah meninggal karena Ebola.

HUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN

Hindari kontak dengan kelelawar dan primata, dan jangan menyentuh darah, cairan, dan daging mentah yang diolah dari hewan-hewan tersebut. Selanjutnya, hewan yang terinfeksi dan menjadi reservoir penyebaran penyakit ebola ini harus dimusnahkan, demikian pula perlu dilakukan pengawasan yang sangat ketat pada proses penguburan atau pembakaran bangkai hewan yang terinfeski, hal ini untuk mengurangi risiko penularan dari hewan ke manusia. Demikian pula, membatasi perpindahan hewan dari peternakan yang terinfeksi ke daerah lain, sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit.

PETUGAS KESEHATAN

Kenakan pakaian pelindung, termasuk masker, sarung tangan, baju, dan pelindung mata. Lakukan pengendalian infeksi dan sterilisasi secara tepat. Demikian pula, termasuk upaya menjaga kebersihan tangan, kebersihan pernapasan, dan penggunaan alat pelindung diri. Petugas kesehatan yang merawat pasien yang diduga atau dikonfirmasi virus Ebola harus diterapkan secara ketat, berdasarkan tindakan pencegahan standar, dengan langkah pengendalian infeksi lainnya untuk menghindari paparan darah dan cairan tubuh pasien dan kontak tanpa pelindung langsung dengan lingkungan tercemar.

MENGISOLASI PASIEN

Pasian Ebola harus diisolasi dari pasien lain. Hindari kontak langsung dengan tubuh orang yang telah meninggal karena Ebola. Himbauan untuk memberitahukan petugas kesehatan jika masyarakat memiliki kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh, seperti kotoran, air liur, urin, muntahan, dan air mani dari orang yang sakit dengan Ebola. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit luka atau selaput lendir yang tidak terlindungi, misalnya, mata, hidung, atau mulut.

KESADARAN

Dengan tidak adanya pengobatan yang efektif dan vaksin pada manusia, sehingga harus dilakukan langkah pencegahan, dengan cara meningkatkan kesadaran akan faktor risiko terhadap infeksi Ebola dan dilanjutkan upaya perlindungan individu merupakan cara terpenting untuk mengurangi infeksi pada manusia dan menurunkan angka kematian. Masyarakat yang terkena dampak Ebola harus menginformasikan penduduk tentang sifat penyakit dan tentang langkah-langkah penanganan wabah, termasuk proses pemakaman orang yang meninggal. Mengontrol infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan terhadap penularan dari manusia ke manusia khususnya yang terkait dengan kontak langsung atau tidak langsung dengan darah dan cairan tubuh. (Dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleVideo: Alzheimer Pelupa dan Gangguan Emosi
Next articleVideo: Penyebab Dan Pencegahan Kecacatan Janin
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here