Dewasa ini semakin banyak ditemukan generasi muda yang kecanduan narkoba. Padahal narkoba ini sangat berbahaya bagi generasi penerus. Bahaya narkoba karena berhubungan dengan efek ketagihan atau kecanduan, yang dalam istilah kedokteran disebut “Addiction Effect”.

Narkotika adalah setiap senyawa psikoaktif dengan sifat yang menginduksi sistem saraf pusat. Misalnya morfin, heroin dan turunannya, seperti xanax. Dari sudut pandang farmakologi, narkotika digunakan hanya untuk menghilangkan rasa sakit yang parah. Ketika digunakan dengan hati-hati dan di bawah perawatan langsung dokter, obat ini dapat efektif dalam mengurangi rasa sakit.

Narkotika bekerja dengan mengikat reseptor di otak dan memblokir rasa sakit. Sehingga, obat ini bekerja dengan baik untuk menghilangkan rasa sakit dalam jangka pendek. Namun narkotik ini dapat memberikan efek ketagihan. Kecanduan narkoba dapat menimbulkan keinginan kuat untuk senantiasa menggunakan obat.

MEKANISME KERJA OBAT-OBAT NARKOTIK

Gambaran Otak Yang Mengalami Ketagihan Narkotik
Gambaran Otak Yang Mengalami Ketagihan Narkotik

Ada banyak golongan obat-obat yang termasuk kelompok Psikotropika atau Narkotik, Contoh Kodein, Fentanyl (Duragesic), Meperidine (Demerol), Morfin (MS Contin), Oxycodone (Oxycontin, Percocet, Percodan), Tramadol (Ultram), Hydrocodone (Vicodin), dan Hydromorphone. Obat-obat tersebut bekerja pada system saraf pusat di otak, yang secara spesifik menghambat rasa sakit, namun di lain sisi memberikan efek samping euphoria, dan delusi, bahkan berbagai efek samping yang sangat membahayakan.

Kecanduan narkoba dapat menyebabkan akibat yang serius, dengan konsekuensi jangka panjang, yang berhubungan dengan kesehatan fisik, mental, pekerjaan, dan hukum. Dengan akibat yang berbahaya tersebut, penderita membutuhkan bantuan dari dokter, keluarga, teman, pendukung atau bahkan program pengobatan terorganisir untuk mengatasi kecanduan narkoba.

Beberapa gejala, mulai dari kegagalan penderita untuk berhenti menggunakan Narkotika akibat ketergantungan, gangguan persepsi visual, pendengaran dan rasa, memori yang buruk (penurunan daya ingat), peningkatan tekanan darah, denyut jantung, mata merah, kesulitan berkonsentrasi, peningkatan nafsu makan, perlambatan reaksi, berpikir paranoid, delusi, euphoria dan kehilangan kesadaran. Bahkan pada dosis tinggi, mereka dapat menyebabkan kejang, koma dan kematian.

Sebagian besar kasus overdosis narkoba melibatkan penggunaan lebih dari satu obat. Narkotik meningkatkan efek dari neurotransmitter yang disebut endorfin dan enkephalins dengan bertindak pada Dewasa ini semakin banyak ditemukan reseptor saraf sebagai bahan kimia alami dalam tubuh. Mereka menekan rasa sakit, mengurangi kecemasan, dan pada dosis tinggi cukup menghasilkan euforia. Dosis toksik heroin meningkatkan efek penghambatan GABA, yang menyebabkan kegagalan jantung dan fungsi.

PENGOBATAN DAN PENYEMBUHAN AKIBAT KETAGIHAN NARKOTIKA

Proses-penanganan-Ketergantungan-Narkotika
Proses-penanganan-Ketergantungan-Narkotika

Perawatan kecanduan narkoba dilakukan melalui program pengobatan rawat jalan, konseling hingga fase rehabilitasi. Hal ini sangat tergantung pada tingkat kecanduan, bahkan mungkin diperlukan langkah-langkah medis dengan menggunakan obat anti Narkoba (detoksifikasi).

Ada tahapan mengobati penderita ketergantungan Narkotika. Langkah pertama, Konseling. Terapi perilaku dapat membantu penderita mengembangkan cara-cara untuk mengatasi ketagihannya. Langkah selanjutnya adalah Detoksifikasi. Ini untuk berhenti keracunan obat adiktif secepat dan seaman mungkin. Detoksifikasi dapat diterapkan secara bertahap mengurangi dosis obat atau mengganti sementara zat lain, seperti metadon, yang memiliki efek samping yang kurang parah.

Pengobatan dengan detoksifikasi, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan lingkungan, dimana diupayakan setelah penderita sembuh dan pulih, harus dicegah jangan berinteraksi lagi dengan lingkungan lamanya. Karena jika demikian, maka kelompoknya akan memaksa dia untuk memakai kembali narkoba. (dr. Ikrar)

SHARE
Previous articleVideo: Ternyata Penyakit Down Syndrome Bisa Dicegah
Next articleVideo: Cara Atasi Gangguan Sembelit
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here