Wabah virus ebola yang mengancam Afrika Barat telah menjadi perhatian dunia. Infeksi virus ebola sangatlah berbahaya. Selain bersifat mematikan, ebola mudah menular dan menjadi endemi di berbagai wilayah di dunia. Untuk mengantisipasinya, masyarakat harus menjalani pola hidup sehat agar daya tahan tubuh meningkat.

Wabah penyakit ebola marak terjadi di sejumlah wilayah Afrika, di antaranya Liberia, Sierra Leone, Guinea, dan Nigeria. Selama beberapa bulan belakangan ini, ebola cukup menjadi sorotan dunia, pasalnya sampai saat ini belum diketemukan obat berlisensi (vaksin) untuk pencegahannya. Bahkan, penyakit ebola disebut-sebut sebagai salah satu penyakit paling menakutkan saat ini. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization) melansir lebih dari 900 orang tewas dalam kurun waktu tiga bulan akibat terinfeksi ebola.

WHO menjelaskan, ebola menular ke manusia melalui kontak darah, sekresi atau organ dan cairan lain dari hewan yang terinfeksi. Seperti kelelawar pemakan buah yang termasuk klan Pteropodidae merupakan pembawa alami virus tersebut.

Hewan lain yang berpotensi menyebarkan virus ebola ke manusia adalah simpanse, gorila, antelop hutan dan monyet. Setelah terinfeksi dari hewan, maka orang tersebut berpotensi menyebarkan virus kepada orang lainnya melalui cairan darah, air liur atau lendir. Virus itu kemudian berkembang di populasi manusia dan dapat ditularkan dari manusia ke manusia.

Gejala virus ebola sering ditandai dengan demam, nyeri otot, sakit kepala, lemas dan sakit tenggorokan diikuti dengan muntah, diare, kulit kemerahan (ruam), juga kerusakan ginjal dan hati. Pada beberapa kasus juga dijumpai pendarahan internal maupun eksternal. Hasil pemeriksaan laboratorium menandakan adannya penurunan sel darah putih dan faktor pembekuan darah serta meningkatnya kadar enzim hati. Gejala biasanya timbul mulai 2-21 hari setelah terkena virus.

 

SHARE
Previous articleVIDEO: Ratusan Juta Penduduk Dunia Menderita Asthma
Next articleMinyak Ikan dan Khasiatnya
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here