Penderita Asthma (Sesak napas) telah mengalami lonjakan yang sangat tinggi selama 50 tahun terakhir. Berdasarkan laporan WHO (Badan Kesehatan Dunia) telah lebih 300 juta penduduk dunia menderita Asthma. Salah satu penyebab utamanya adalah reaksi imunologi yang berlebihan, sebagai manifestasi reaksi alergi terhadap lingkungan dan udara yang semakin tercemar.

Struktur Saluran Napas

Baru-baru ini, para ilmuwan membuat kemajuan dalam mengidentifikasi manifestasi reaksi alergi tersebut. Secara klinis reaksi alergi memberikan hasil yang beragam. Untuk mengidentifikasi kemajuan terbaru yang telah memengaruhi pemahaman asthma dengan gambaran penyakit yang sangat heterogen, dan dipengaruhi oleh efek genetik, lingkungan yang kompleks, dan jenis sel mediator yang mengatur respons kekebalan.

Sel epitel yang melapisi saluran napas adalah pertahanan pertama terhadap masuknya mikroba dan alergen. Dari penelitian, sangat jelas bahwa sel-sel epitel tidak hanya bersifat pasif yang bertanggung jawab sebagai pertahanan tubuh terhadap lingkungan, melainkan sel-sel epitel ini dapat menanggapi isyarat dari luar tubuh dan langsung menyebabkan keaktifan alergen yang menjadi pemicu reaksi sistem pertahanan tubuh (immune system). Selanjutnya melepaskan zat yang dapat beradaptasi terhadap immune response. Temuan ini telah membatalkan gagasan sebelumnya, bahwa sel-sel kekebalan adalah pemicu utama munculnya Asthma. Sedang dalam penelitian genetika telah menegaskan pentingnya sel epitel, seperti mutasi pada sel epitel yang secara spesifik berhubungan dengan alergi dan asthma.

Penyebab Asthma dan gejala klinis

Saluran napas yang mengalami penyempitan dan peradangan.

Asthma adalah gangguan pernapasan, yang berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh atau immune system, khususnya berhubungan dengan limfosit T yang dikendalikan dari dinding saluran napas. Asthma tersebut menimbulkan peradangan, dan memproduksi lendir yang sangat berlebihan pada saluran napas. Selanjutnya dinding bronkus atau saluran napas menjadi sangat reaktif (hyperreactive), yang menyebabkan sumbatan jalan napas.

Secara klinis, penyakit asthma memperlihatkan gejala berupa:

  1. Sesak Napas.
  2. Munculnya bunyi mengi pada saat menghirup udara (hal ini dikarenakan bronkus atau saluran napas mengalami kontriksi atau menyempitan dan juga akibat peradangan)
  3. Sianosis atau pucat (akibat kurangnya Oksigen dan tingginya kadar Karbon Dioksida di dalam darah)
  4. Gejala batuk yang disertai dengan wheezing(mengi) yang karakteristik dan timbul secara episodik.
  5. Gejala batuk terutama terjadi pada malam atau dini hari, dipengaruhi oleh musim, dan
    aktivitas fisik.
  6. Adanya riwayat penyakit atopik pada pasien atau keluarganya memperkuat dugaan adanya penyakit asthma.
  7. Pada anak dan dewasa muda gejala asthma sering terjadi akibat hiperaktivitas bronkus terhadap alergen, banyak di antaranya dimulai dengan adanya eksim, rinitis, konjungtivitis, atau urtikaria.

Pengobatan dan pencegahan Asthma

Penatalaksanaan Penderita Asthma dengan metode thermoplasty bronchial

Pengobatan atau terapi asthma, yang menjadi prioritas adalah mengontrol dan menghilangkan gejala sesak napas. Pengobatan tersebut sebaiknya kombinasi antara menghilangkan gejala dan faktor pencetus. Dalam upaya proses pencegahan penyakit asthma menjadi kronis dengan berbagai komplikasinya, disarankan: perlunya pengobatan yang sedini mungkin; sejak gejala asthma tersebut muncul pada saat masih bayi, atau anak, kemudian dilanjutkan dengan membatasi perkembangan yang dapat memperburuk asthma, serta memperhatikan penatalaksanaan penyakit tersebut.

Tujuan pengobatan asthma bronkial adalah agar penderita dapat hidup normal, bebas dari serangan asthma serta memiliki fungsi paru-paru se-normal mungkin, mengurangi reaktivasi saluran napas, sehingga menurunkan angka perawatan dan angka kematian akibat asthma. Suatu kesalahan dalam penatalaksanaan asthma dalam jangka pendek dapat menyebabkan kematian, sedangkan jangka panjang dapat mengakibatkan peningkatan serangan atau terjadi obstruksi paru yang menahun. Untuk pengobatan asthma perlu diketahui juga perjalanan penyakit, pemilihan obat yang tepat, cara untuk menghindari faktor pencetus. Dalam penanganan pasien asthma penting diberikan penjelasan tentang cara penggunaan obat-obatan asthma yang digunakan untuk menghilangkan dan mencegah timbulnya gejala penyempitan saluran pernapasan.

Pada saat ini obat asthma dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu reliever dan controllerReliever adalah obat yang cepat menghilangkan gejala asthma yaitu obstruksi saluran napas. Controller adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan asthma yang persisten. Obat yang termasuk golongan reliever adalah agonis beta-2, antikolinergik, teofilin,dan kortikosteroid sistemik. Agonis beta-2 adalah bronkodilator yang paling kuat pada pengobatan asma. Agonis Beta-2 mempunyai efek bronkodilatasi, menurunkan permeabilitas kapiler, dan mencegah pelepasan mediator dari sel mast dan basofil. Golongan agonis beta-2 merupakan stabilisator yang kuat bagi sel mast, tapi obat golongan ini tidak dapat mencegah respons lambat maupun menurunkan iperresponsif bronkus. Obat agonis beta-2 seperti salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol dan isoprenalin, merupakan obat golongan simpatomimetik. Efek samping obat golongan agonis beta-2 dapat berupa gangguan kardiovaskuler, peningkatan tekanan darah, tremor, palpitasi, takikardi dan sakit kepala.

Pemakaian agonis beta-2 secara reguler hanya diberikan pada penderita asthma kronik berat yang tidak dapat lepas dari bronkodilator. Antikolinergik dapat digunakan sebagai bronkodilator, misalnya ipratropium bromide dalam bentuk inhalasi.

Demikian pula ada penemuan terbaru, (J. Vis. Exp., 2010) dengan menggunakan metode (Thermoplasty bronchial) yang dengan bantuan bronshuscopy mengontrol suhu pada saluran napas. Prosedur pengobatan penyakit asthma persisten yang berat dengan memberikan energi panas pada dinding saluran napas yang bertujuan mengurangi ketegangan otot saluran napas, sehingga saluran napas bisa melebar atau berdilatasi.

SHARE
Previous articleVIDEO: Multi Symptoms Vascular
Next articleVIDEO: Waspada Wabah Ebola
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here