Di dunia modern dengan lifestyle dan persaingan yang sangat ketat, industrialisasi, dan kesemrawutan perkotaan, serta tuntutan hidup yang semakin berat, menyebabkan banyak orang mengalami ketakutan, cemas, stres yang berlebihan, sehingga mengganggu kesehatan dirinya, bahkan keluarga dan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut para ilmuwan berupaya mencari tahu mekanisme stres, cemas, dan ketakutan. Upaya mencari tahu, baik dari segi patofisiologi, anatomi, dan regulasi serta area di otak yang menentukan mekanisme stres, cemas, dan ketakutan tersebut.

Ilustrasi mekanisme dan sikuit sistem sel-sel saraf di daerah Amigdale BNST Otak

Selama ini, definisi kecemasan (anxiety) adalah perasaan tidak nyaman yang biasanya berupa perasaan gelisah, takut, atau khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor psikologis dan fisiologis di otak. Komponen-komponen yang terlibat saat seseorang merasa cemas adalah komponen kognitif, somatik, emosional, dan behavioral. Kecemasan biasanya terjadi tanpa stimulus yang jelas, sementara rasa takut (fear) disebabkan oleh munculnya ancaman yang jelas dari luar. Rasa takut yang berhubungan dengan tingkah laku spesifik untuk menghindar dan menjauh dari stimulus yang tidak menyenangkan. Sedangkan kecemasan merupakan akibat dari ancaman yang tidak jelas, sehingga tidak bisa dikontrol dan tidak bisa dihindari.

Kecemasan merupakan reaksi yang normal terhadap stres yang berguna untuk membantu seseorang dalam menghadapi situasi yang sulit. Orang akan berusaha mencari solusi dan jalan keluar ketika dihadapkan pada masalah. Upaya tersebut lebih disebabkan karena keinginan orang yang bersangkutan untuk mereduksi perasaan tidak nyaman yang timbul akibat kecemasan yang dialaminya. Lain halnya jika kecemasan yang dialami seseorang terjadi secara berlebihan. Karena kecemasan yang berlebihan sudah masuk dalam kategori gangguan yang disebut dengan istilah gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Gejala Penderita Gangguan Kecemasan

Gejala Cemas dan Ketakutan Pada Pasien Anxiety DIsorder

Secara fisiologi tubuh, biasanya terjadi gangguan kecemasan seringkali disertai dengan jantung yang berdebar, ketakutan, keluar keringat dingin, kekakuan pada bagian tubuh, napas yang terengah-engah dll. Semua hal tersebut dipicu oleh tekanan darah dan denyut jantung yang naik sehingga membuat gangguan kecemasan merasakan perasaan yang sangat menganggu.

Karakteristik penderita gangguan kecemasan (anxiety) begitu didominasi oleh faktor psikologis, dan lingkungan sehingga sangat disarankan jika penderita gangguan kecemasan berlebihan diberikan sugesti dan terapi yang tepat sehingga secara psikis, lingkungan dan fisik mampu meredam kecemasan dan stres relief yang ia alami setiap harinya.

Apabila orang tidak dapat mempersepsikan apa yang menjadi tindakan konstruktif, maka mekanisme pertahanan digunakan sebagai sarana pengganti yang tidak adekuat. Mekanisme-mekanisme ini tidak beroperasi untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang menimbulkan tegangan. Dengan kata lain, mekanisme kompensasi psikologis tidak menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan stres, melainkan berusaha menghindari secara sadar kondisi cemas tersebut sehingga berdampak sebaliknya justru semakin mempertahankan kecemasan. Manifestasi dari ketakutan demi ketakutan itulah yang membuat seseorang menjadi cemas yang luar biasa. Kemudian rasa takut dan cemas akan semakin sulit dikendalikan, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan gangguan kecemasan menahun yang dalam istilah neurosciences disebut depresi ataupun Anxiety Disorders.

Penatalaksanaan Gangguan Kecemasan

Obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan

Gangguan kecemasan menahun, pada prinsipnya dapat diobati, bahkan sebagian besar orang dengan gangguan kecemasan dapat dibantu dengan perawatan dan penatalaksanaan yang profesional. Keberhasilan pengobatan sangat bervariasi, dan bergantung pada tingkat kecemasan, lamanya seseorang menderita kecemasan dan depresi, serta faktor pencetusnya. Sehingga pengobatan gangguan kecemasan, juga bervariasi, mulai dari beberapa minggu atau bulan, bahkan pengobatannya membutuhkan tahunan. Meskipun pengobatan individual, beberapa pendekatan standar telah terbukti efektif. Demikian pula dapat diberikan obat-obat suportif dan antikecemasan dan antidepresan, seperti: Brexiprazole. Namun yang paling utama adalah, bagaimana menemukan faktor pencetusnya, dan dilanjutkan dengan pengobatan yang tepat.

Studi Terbaru Tentang Kecemasan

Perbandingan kekuatan signal saraf pada daerah BNST stress atau cemas vs normal

Dalam penelitian kami, dalam mengungkap metode pengendali kecemasan dan stres. Metode yang dimaksud yaitu mengendalikan kecemasan dan stres dengan mempelajari sistem saraf pada bagian kepala dan otak manusia. Dalam studi yang kami lakukan, kami mendeteksi secara spesifik sel saraf yang dideteksi berkontribusi memunculkan kecemasan dan stres. Deteksi tersebut dengan menggunakan metode berbasis photostimulation khusus yang dikembangkan dalam laboratorium. Metode itu dipakai untuk memetakan sirkuit lokal pada area bed nucleus of the stria terminalis (BNST). Untuk diketahui BNST merupakan area penentu stres, cemas, dan ketakutan. Dalam studi yang menggunakan metode laser scanning photostimulation (LSP) yang dikombinasikan dengan rekaman sel saraf secara langsung. Metode ini memungkinkan pemetaan dengan resolusi tinggi, akurat pada area BNST di otak. Selain LSP, peneliti juga menggunakan metode optogenetik. Dari percobaan tersebut, tim kami menemukan metode pemetaan otak secara LPS efektif memetakan koneksi sel-sel saraf penghambat di daerah BNST. Dengan metode optogenetik, peneliti juga mampu memetakan jenis koneksi sel-sel saraf penghambatan secara sangat spesifik. Metode optogenetik ini secara mudah bisa mematikan dan menghidupkan saraf penghambatan di otak.

Selanjutnya, data kami mengonfirmasikan bahwa koneksi sel-sel saraf penghambatan yang kuat di BNST dapat dikontrol, yang berarti kami dapat mengontrol proses stres, cemas, dan ketakutan pada subjek penelitian kami. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neurophysiology pada 6 April 2016. (Dr Ikrar)

 

SHARE
Previous articleVIDEO: Ditemukan “Struktur Baru Otak”
Next articleCegah Stunting dengan Asupan Gizi yang Baik
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here