Kemajuan teknologi transportasi mengakibatkan meningkatnya mobilitas masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan perkotaan. Sesuatu yang positif, namun juga berdampak negatif berupa bertambahnya insiden kecelakaan lalu lintas. Tidak jarang yang berakhir dengan kematian. Jumlahnya juga tidak sedikit, dan umumnya akibat trauma di kepala atau cedera otak.

Cedera otak dapat berakibat fatal dan mengancam jiwa, bahkan merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan. Pada dasarnya, cedera otak terjadi akibat terjatuh, kecelakaan kendaraan, dan jadi korban kekerasan. Selain kematian, trauma otak juga menyebabkan cedera sekunder di mana aliran darah otak dan tekanan di dalam tengkorak berubah. Semua ini pada eksesnya berkontribusi terhadap meningkatnya kerusakan otak.

Gejala Utama

Gambaran otak yang mengalami trauma kepala berat
Gambaran otak yang mengalami trauma kepala berat

Gejala trauma atau cedera otak sangat tergantung dengan tingkat kerusakan dan bagian atau area otak yang terkena. Sebagai contoh, penderita biasanya mengalami penurunan kesadaran, bahkan sampai mengalami koma cukup lama. Namun bisa juga gejalanya sekadar pusing.

Pasien dapat tetap sadar atau mungkin kehilangan kesadaran selama beberapa detik atau menit. Keadaan seperti ini dialami oleh pasien trauma otak dalam taraf yang ringan.

Gejala lain dari cedera otak ringan berupa sakit kepala, muntah, mual, kurangnya koordinasi motorik, pusing, bahkan gangguan keseimbangan diri. Demikian pula berakibat pada penglihatan, pendengaran, dan rasa tidak enak di mulut, rasa kelelahan, serta perubahan pola tidur.

Pasien dalam trauma yang lebih berat mengalami gangguan kognitif dan emosional. Gejalanya berupa perubahan mood, kebingungan, dan penurunan memori, konsentrasi, perhatian, atau berpikir. Gejala jangka panjang dari trauma atau cedera otak bisa berimbas pada perubahan dalam perilaku sosial pasien tersebut.

Penyebab Trauma Otak

Penyebab umum Trauma dan Cedera Otak akibat tindakan kekerasan di kepala, kecelakaan transportasi, konstruksi, dan olahraga. Diperkirakan, antara 1,6 dan 3,8 juta kasus cedera otak setiap tahun adalah hasil dari kecelakaan dalam berolahraga. Sedangkan pada anak usia 2-4 tahun, penyebab paling umum adalah terjatuh, sementara pada anak-anak yang lebih tua akibat kecelakaan lalu lintas. Kekerasan dalam rumah tangga adalah penyebab lain dari trauma otak.

Pengobatan

Tindakan terpenting dalam penanganan trauma atau cedera otak adalah melakukan tindakan darurat sesegera mungkin dalam perawatan darurat, khususnya dalam fase waktu yang sangat kritis dari cedera tersebut. Pengobatan tergantung kondisi penderita, serta tingkatan cedera, mulai dalam tingkatan sedang hingga luka parah. Namun pada umumnya pasien menerima perawatan di unit gawat darurat hingga memerlukan tindakan bedah saraf.

Pada tahap akut, tujuan utama perawatan adalah untuk menstabilkan kondisi pasien dan fokus pada pencegahan cedera lebih parah. Bila sedikit saja terjadi kesalahan perawatan, maka bisa memperparah kondisi penderita.

Trauma kepala akibat kecelakaan Lalu lintas
Trauma kepala akibat kecelakaan Lalu lintas

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah masalah transportasi ke rumah sakit saat membawa sang penderita. Pastikan pasokan oksigen yang tersedia tepat, dan menjaga aliran darah yang cukup ke otak, serta mengendalikan tekanan intracranial. Demikian pula perlu mencegah jangan sampai terjadi kejang.

Selain tindakan di atas, diperlukan juga Neuroimaging untuk membantu kesempurnaan dalam mendeteksi kerusakan otak intracranial. Tindakan sederhana yang perlu dilakukan adalah dengan memperhatikan tingkat kemiringan tidur pasien dan meluruskan kepala untuk meningkatkan aliran darah melalui pembuluh darah leher.

Demikian pula perlu diberikan Sedatif, analgesik dan obat reklaksasi otot untuk meringankan rasa nyeri dan mengurangi kekakuan otot sehingga mengurangi pembengkakan. Penggunaannya harus hati-hati untuk menghindari ketidakseimbangan elektrolit atau gagal jantung. Intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik dapat digunakan untuk menjamin pasokan oksigen yang tepat dan memberikan napas aman. Sedangkan jika terjadi kejang dianjurkan untuk memberikan benzodiazepine.

Pencegahan

Karena penyebab utama trauma otak adalah kecelakaan kendaraan, maka tindak pencegahan yang sangat penting dilakukan adalah dengan mengurangi kejadian trauma kepala. Dalam kecelakaan, kerusakan dapat dikurangi dengan menggunakan sabuk pengaman, kursi keselamatan anak dan helm sepeda motor, serta program pendidikan selamat berkendaraan sehingga dapat menurunkan jumlah kecelakaan.

Tindakan bedah saraf di Rumah Sakit
Tindakan bedah saraf di Rumah Sakit

Selain mencegah kecelakaan atau trauma kepala, dalam penelitian terbaru adalah untuk memperkuat fungsi dan elastisitas saraf. Tim peneliti dari Universitas Virginia telah berhasil membuktikan, bahwa suplementasi diet dengan Omega-3 DHA memberikan perlindungan terhadap kerusakan otak yang terjadi setelah cedera traumatis. Penderita yang diberikan DHA untuk memberikan manfaat profilaksis untuk otak terhadap luka trauma. Konsep penting dari suplemen makanan sehari-hari dengan DHA memberikan harapan yang lebih besar dalam upaya memproteksi kerusakan otak, namun juga memberi dampak positif bagi kesehatan otak tersebut.

Demikian pula, hasil penelitian tentang acetylcysteine ​​telah dikonfirmasi, keuntungan berdasarkan uji coba klinis yang diuji pada militer Amerika Serikat ternyata dapat mengurangi efek dari ledakan akibat otak traumatis ringan dan cedera neurologis pada tentara. Demikian pula dilaporkan, beberapa penelitian pada hewan telah menunjukkan kemanjuran dalam mengurangi kerusakan otak terkait traumatik atau cedera otak sedang, dan cedera otak juga iskemia-induced dan trauma otak. (1005)

SHARE
Previous articleTanya Dokter: Sakit Gigi Geraham
Next articleVideo: Ditemukan Vaksin Pencegah Kanker Serviks Dan Penis
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here