Pada tahun 2015, CNN melaporkan berdasarkan Indeks Kemacetan dan hasil penelitian Castrol Motor, Ibu kota Republik Indonesia, DKI Jakarta menjadi juara macet nomor satu didunia. Bahkan Jakarta merupakan kota terburuk di dunia untuk kategori kemacetan lalu lintas. Hal ini dilandaskan pada perhitungan berapa jumlah rata-rata saat kendaraan bermotor berhenti, dan mulai kembali bergerak, yaitu sebanyak 33,240 kali pertahun di jalan. Dengan atau tanpa perhitungan diataspun, penulis yakin masyarakat DKI Jakarta merasakan betapa tersiksanya dalam mengalami kondisi macet setiap harinya.

Polusi UdaraDengan kemacetan kendaraan bermotor dan berbagai polusi udara dari industri di Jakarta dan sekitarnya akan memperparah kondisi udara Jakarta. Kondisi ini tentu akan berdampak pada polusi udara, yang berasal dari kendaraan bermotor, pabrik, dan buangan limbah industri, akan menurunkan kualitas lingkungan khususnya udara.

Dengan bertambah buruknya lingkungan atmosfir yang diakibatkan oleh berbagai polusi udara, yang berasal dari asap kendaraan bermotor, asap rokok, asap buangan pabrik, pembakaran hutan, maupun semakin tingginya kebocoran ozon dan berbagai efek di atmosfir bumi ini, akan memberikan dampak yang luar biasa pada kesehatan umat manusia, yang mendiami permukaan bumi ini.

Salah satu dampak yang sangat terasa adalah terjadinya peningkatan berbagai penyakit saluran pernapasan, mulai penyakit ringan seperti infeksi saluran pernafasan hingga menderita penyakit Kanker Paru-paru. Kanker paru, sebenarnya berawal dari suatu kelainan pada sel tubuh. Pada dasarnya, didalam tubuh terdapat sistem checks and balances pada pertumbuhan sel, sehingga sel-sel membelah untuk menghasilkan sel-sel baru terjadi secara seimbang. Gangguan sistem checks and balances pada pertumbuhan sel yang tidak terkendali yang akhirnya membentuk massa yang tidak normal dan dikenal sebagai tumor.

Kanker merupakan keganasan Tumor, yang diperlihatkan dengan pertumbuhan secara agresif dan menyerang jaringan lain dari tubuh, dan memungkinkan masuknya sel-sel kanker ke dalam sistem aliran darah atau limfatik dan kemudian kebagian lain dalam tubuh. Proses penyebaran ini disebut metastasis. Kanker paru cenderung untuk menyebar ke organ lain dalam tubuh, terutama ke kelenjar adrenal, hati, otak, dan tulang.

Dalam upaya memahami perkembangan dan tingkat keparahan Kanker Paru, kita perlu memahami fungsi paru-paru secara khusus. Fungsi utama dari paru-paru adalah untuk pertukaran Oksigen dan Karbondioksida, serta senyawa udara lainnya. Melalui paru-paru, karbon dioksida akan dikeluarkan dari aliran darah dan oksigen dari udara akan dihirup memasuki aliran darah. Paru-paru kanan memiliki tiga lobus, sedangkan paru-paru kiri dibagi menjadi dua lobus dan struktur kecil yang disebut Lingula yang setara dengan lobus tengah bagian kanan paru. Saluran udara yang utama memasuki paru-paru adalah bronkus, yang merupakan perpanjangan dari trakea. Selanjutnya bronkus akan bercabang menjadi ke saluran-saluran kecil yang disebut bronkiolus dan akan berakhir pada kantung-kantung kecil yang dikenal sebagai alveoli yang di tempat inilah terjadi pertukaran gas.

Kanker paru-paru dapat timbul pada setiap bagian dari paru-paru, tetapi 90%-95% dari kanker paru-paru diperkirakan timbul dari sel-sel epitel, sel-sel yang melapisi saluran udara didalam paruparu. Kanker paru merupakan penyebab umum kematian akibat kanker di seluruh dunia. Kanker paru-paru adalah penyakit dominan orang tua, hampir 70% dari orang yang didiagnosis dengan kanker paru, berusia lebih dari 65 tahun, sementara kurang dari 3% dari kanker paru-paru terjadi pada orang di bawah 45 tahun.

FAKTOR PENCETUS KANKER PARU

Banyak faktor yang memung-kinkan menjadi pencetus Kanker Paru, misalnya: Rokok (baik perokok pasif maupun perokok aktif), menghirup dalam waktu lama udara yang mengandung serat asbes, penderita infeksi kronis paru, dan sering menghirup polusi udara dari berbagai sumber (Kendaraan bermotor, asap pabrik), demikian pula dipercaya bahwa faktor genetik atau turunan bisa berperan penting.

Insiden kanker paru-paru sangat berkorelasi dengan merokok, sekitar 90% dari kanker paru-paru timbul sebagai akibat penggunaan tembakau. Resiko kanker paru meningkat berbanding lurus dengan tingkat keparahan orang tersebut merokok. Asap tembakau mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, yang telah terbukti menjadi penyebab kanker atau karsinogenik.

Perokok pasif atau menghirup asap rokok secara pasif, karena bukan perokok, pada berbagai tempat, juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan kanker paru. Penelitian telah menunjukkan bahwa bukan perokok yang tinggal bersama dengan perokok memiliki peningkatan 24% risiko untuk dijangkiti kanker paru-paru. Menurut laporan diperkirakan 3.000 kematian akibat kanker paru-paru yang terjadi setiap tahun di AS terjadi pada perokok pasif ini.

Demikian pula dilaporkan, bahwa serat asbes (serat silikat) juga menjadi faktor pencetus Kanker Paru. Dan telah dibuktikan, bahwa faktor genetic atau predisposisi kanker dari keluarga yang menderita Kanker paru sebelumnya, akan memungkinkan kerabat dekatnya dapat menderita hal yang sama.

Adanya penyakit paru manahun, khususnya; Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), terkait dengan peningkatan resiko untuk perkembangan menjadi kanker paru. Dan dewasa ini polusi udara dari kendaraan, industri, dan pembangkit listrik dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya kanker paru pada orang yang terpapar. Diperkirakan sekitar 1% dari kematian kanker paru-paru, disebabkan menghirup udara tercemar, dan para ahli percaya bahwa kontak yang terlalu lama pada udara yang sangat tercemar, dapat membawa resiko perkembangan kanker paru-paru yang sama dengan merokok pasif.

UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN KANKER

Upaya pencegahan kanker merupakan tindakan yang terbaik, sebelum terkena penyakit yang sangat mematikan tersebut. Pencegahan kanker merupakan tindakan yang dilakukan untuk menurunkan kemungkinan terkena kanker. Dengan mencegah kanker, diharapakan akan menurunkan penderita kanker dan selanjutnya akan menurunkan akan kematian penduduk.

Upaya pencegahan terbaik, dengan jalan menghindari berbagai faktor resiko yang bisa memunculkan kanker paru. Dengan cara merubah gaya hidup atau kebiasaan makan, menghindari hal-hal yang diketahui menyebabkan kanker, serta memanfaatkan obat-obatan pencegahan prakanker atau mendeteksi dini munculnya kanker sehingga bisa segera ditangani dan diobati sebelum kanker tersebut masuk ketahap yang berbahaya.

Demikian pula, dewasa ini pengobatan kanker paru melalui tindakan operasi dengan pengangkatan kanker, kemoterapi, atau terapi radiasi, serta kombinasi berbagai cara perawatan. Keputusan tentang jenis perawatan, akan disesuaikan berdasarkan keparahan penyakit, lokasi, luasnya tumor, serta status kesehatan keseluruhan dari pasien.

Seperti kanker lainnya, terapi dimaksudkan bersifat penghapusan atau pemberantasan kanker (kuratif) atau tindakan yang tidak dapat menyembuhkan kanker, tetapi dapat mengurangi rasa sakit dan penderitaan (paliatif). Lebih dari satu jenis terapi mungkin dibutuhkan. Terapi atau pengobatan yang dibutuhkan untuk meningkatkan efek dari terapi primer disebut sebagai terapi adjuvant. Contoh terapi adjuvant yang dibutuhkan berupa kemoterapi atau radioterapi yang diberikan setelah operasi pengangkatan tumor dalam upaya untuk membunuh setiap sel tumor setelah operasi.

Operasi Kanker ParuBedah atau operasi pengangkatan tumor umumnya dilakukan untuk tahap terbatas (tahap I atau tahap II), pembedahan ini menjadi pilihan perawatan untuk kanker yang belum menyebar ke luar paru-paru. Sekitar 10%-35% dari kanker paru-paru dapat diangkat melalui pembedahan, tetapi pengangkatan ini tidak selalu menghasilkan penyembuhan, karena kanker mungkin telah menyebar dan dapat kambuh kembali di masa yang akan datang. Prosedur bedah yang dipilih tergantung pada ukuran dan lokasi tumor. Pembedahan untuk kanker paru-paru adalah suatu prosedur pembedahan besar yang memerlukan anestesi umum, rawat inap, dan tindak lanjut perawatan selama berminggu-minggu sampai berbulan bulan.

Terapi radiasi dapat digunakan sebagai pengobatan untuk Kanker Paru. Terapi radiasi dengan menggunakan energi tinggi sinar-X atau jenis radiasi lain seperti alfa atau gamma untuk membunuh sel-sel kanker. Terapi radiasi dapat diberikan sebagai terapi kuratif , paliatif terapi (menggunakan dosis rendah radiasi dibandingkan dengan terapi kuratif), atau sebagai terapi adjuvant dalam kombinasi dengan pembedahan atau kemoterapi. Terapi radiasi dapat diberikan jika seseorang menolak operasi dan tumor telah menyebar ke daerahdaerah seperti kelenjar getah bening atau trakea membuat operasi pengangkatan tidak mungkin, atau jika seseorang memiliki kondisi lain yang membuat pasien tersebut tidak bisa menjalani operasi besar. Terapi radiasi umumnya hanya menyusutkan tumor atau membatasi pertumbuhannya ketika diberikan sebagai terapi tunggal, sekitar 10%-15% dapat mengalami remisi di masa depan. Kemoterapi dapat diberikan sendiri, sebagai adjuvant pada terapi bedah, atau dalam kombinasi dengan radioterapi. Kemoterapi dapat diberikan sebagai pil, sebagai infus intravena, atau sebagai kombinasi keduanya. Perawatan kemoterapi biasanya diberikan dalam suasana rawat jalan. Kombinasi obat ini diberikan dalam serangkaian perawatan.

Terapi lain yang dapat digunakan seperti: Target Terapi, Terapi photodynamic (Suatu terapi yang digunakan untuk berbagai jenis dan tahap kanker paru-paru), Frekuensi radio ablasi (RFA) dalam pengobatan jenis ini, jarum dimasukkan melalui kulit sampai ke fokus daerah kanker, biasanya di bawah bimbingan oleh CT scan. Frekuensi radio (listrik), energi yang diperoleh kemudian ditransmisikan ke ujung jarum mana menghasilkan panas di jaringan, yang selanjutnya dapat membunuh jaringan kanker dan serta menutup pembuluh darah kecil yang memasok kanker. Terapi terbaru disebut (Targeting cancer metabolism): suatu terapi yang menggunakan gene spesifik yang secara khusus bisa menghambat metabolisme sel-sel kanker, sehingga sel-sel kanker tersebut tidak bisa berkembang dan tumbuh, yang pada akhirnya musnah dari dalam tubuh. (1005)

SHARE
Previous articleKanker Payudara Dapat Disembuhkan
Next articleEnsefalitis “Peradangan Otak” yang Berbahaya
Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang dokter dan ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf, Peneliti di UC Irvine (2008-2016). Di dunia internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg memopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012, dan metode pengobatan “gene therapy & Advanced Therapy” yang dipublikasikan di Nature 2013 dan 2017. Saat ini Dr. Ikrar merupakan Medical Director di BioBlast Discovery, California, U.S.A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here